Jumat, 15 Januari 2010 | 03:34 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah membuat sejumlah program seperti rencana penanaman satu miliar pohon untuk mewujudkan target reduksi emisi 26 persen pada tahun 2020. Akan Tetapi, hal ini masih mengundang kritik. Pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan perlindungan lahan dan hutan gambut untuk menekan pelepasan emisi karbon ke atmosfer.



”Emisi karbon dari lahan gambut di Indonesia mencapai 40 persen. Tetapi ironis sekali, pemerintah tidak menempatkan perlindungan gambut sebagai prioritas,” kata Juru Kampanye Hutan Grrenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar dalam konferensi pers, Kamis (14/1) di Jakarta.

Bustar mencontohkan sebuah ironi ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di dalam forum internasional Konferensi Perubahan Iklim PBB Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) baru-baru ini di Kopenhagen, Denmark, menggembar-gemborkan target reduksi emisi 26 persen pada 2020 secara sukarela, ”Pada saat yang hampir bersamaan, penghancuran lahan gambut di Semenanjung Kampar, Riau, terus berlangsung,” tambah Bustar.

Dia mengatakan, penanaman satu miliar pohon itu bagus. Tetapi, sejak zaman pemerintahan Presiden Soeharto pun kerap dicanangkan penanaman pohon dan kondisi hutan tetap terus berkurang.

”Greenpeace menuntut pada tahun 2010 ini, supaya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono konsisten dengan komitmen reduksi emisi 26 persen pada 2010 dengan tindak lanjut perubahan kebijakan,” katanya.

Dua hal yang ditekankan supaya dijadikan kebijakan pemerintah saat ini meliputi larangan konversi lahan dan hutan gambut. Langkah lain, yaitu pencapaian deforestasi nol atau moratorium pada hutan primer.

Bustar juga menyampaikan, rencana tata ruang nasional pun harus dikritisi. Sebab, penyusunannya mengindikasikan usaha memuluskan konversi hutan.

Yuyun Indradi, anggota Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, mengatakan, pemerintah ternyata memasukkan peran industri perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri untuk memperbesar stok karbon.

Pemerintah juga menekankan bahwa kedua hal itu telah berkontribusi dalam hal keuangan negara, tetapi data menunjukkan kontribusi keduanya tidaklah terlampau besar.



”Hutan tanaman industri selama ini hanya berkontribusi pada keuangan negara tidak melebihi 3 persen, sedangkan perkebunan kelapa sawit hanya berkontribusi sebesar 0,85 persen,” kata Yuyun. (NAW)
Jumat, 15 Januari 2010 | 03:01 WIB

Emil Salim

Hari Kamis (14/1), Penerbit Buku Kompas meluncurkan buku Pengalaman Pembangunan Indonesia- Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro dari tahun 1963 hingga 1996 menggambarkan pengalamannya dalam membangun Indonesia di masa Orde Baru. Jika masa ini sudah lewat, timbul pertanyaan masih relevankah isi buku ini bagi generasi masa kini dan nanti? Hikmah apakah yang bisa ditarik dari buku ini?



Buku ini ditulis oleh seorang profesor ekonomi sehingga segera tampak betapa inner logic ekonomi memengaruhi cara pandang dan berpikir sang penulis. Ilmu ekonomi bertumpu pada logika bahwa harga keseimbangan terbentuk bila penawaran bertemu dengan permintaan. Sifat pasar bisa berbeda, serbaliberal, monopoli, berencana atau lain- lain. Namun, akhirnya yang dituju adalah harga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Ketika pada tahun 1972 meledak krisis pangan yang parah dan harga melonjak tinggi, terdapat laporan produksi beras yang cukup tinggi dari pejabat pertanian daerah, sedangkan Biro Pusat Statistik mengungkapkan produksi beras lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Selaku Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro menginstruksikan agar yang dijadikan patokan adalah ”harga beras pada musim panen” dan bukan perkiraan jumlah produksi yang simpang siur. Inner logic ekonomi berkata, pada musim panen pasokan beras naik sehingga harga beras mestinya tidak naik. Bila ada kenaikan, produksi pada musim panen lebih rendah dengan sebelumnya.

Asas efisiensi





Pelajaran kedua yang bisa ditarik adalah penerapan asas efisiensi yang secara sederhana terungkap dalam lima pertanyaan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono ketika berhadapan dengan tuntutan departemen mengajukan anggaran proyek, yakni: pertama ”apakah perlu membangun proyek itu?” Kalau ini dijawab positif, pertanyaan berikut adalah ”apakah perlu sebesar itu ukuran proyeknya?” Kemudian, menyusul pertanyaan ”apa perlu sekarang, apa betul urgen mendesak?” Lalu ”apakah biaya bisa diturunkan?” Akhirnya masih menyusul permintaan untuk mengajukan studi kelayakan untuk dikaji oleh para ahli.

Tersimpul dalam pertanyaan sederhana Sudharmono ini prinsip efisiensi kegunaan, pertimbangan ukuran besar, faktor urgensi waktu dan faktor biaya. Untuk dicek dengan studi kelayakan proyek. Setelah terjawab ini semua barulah proyek ini bisa lolos.



Hikmah ketiga, diterapkannya dalil ”berpegang teguh pada sasaran yang ditetapkan” dalam bahasa manajemen maintenance of the objectives. Ketika pada Januari 1986 Presiden Soeharto menyatakan tidak akan mendevaluasi rupiah, maka komitmen pemerintah ini harus dilaksanakan. Akan tetapi, harga minyak bumi kemudian jatuh sehingga penerimaan devisa berkurang dengan tajam dan nilai tukar rupiah merosot turun. Dan orang menukar rupiah yang overvalued dengan mata uang asing.

Tujuan kebijakan pembangunan adalah mengusahakan stabilisasi ekonomi dan ini memerlukan nilai tukar yang stabil pada tingkat keseimbangan yang bisa dipikul anggaran. Jika nilai tukar rupiah overvalued, maka devisa akan dikuras sehingga membahayakan stabilitas rupiah. Maka, demi maintenance of the objective mencapai ekonomi stabil, Presiden ”menarik janjinya” dan mendevaluasi rupiah pada tahun 1986.

Kerja ”all-out”



Pelajaran keempat adalah semangat kerja habis-habisan, all out to get things done. Untuk mencapai sasaran swasembada pangan, segala keperluan petani harus sampai ke tangan di lapangan. Bibit unggul PB-5, pupuk, dan saluran irigasi harus tersedia pada waktunya. Dan peranan Bulog membeli padi pada waktu harga turun dan menjual pada waktu harga naik. Jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional direhabilitasi untuk kelancaran arus pasokan input ke petani dan pembelian output dari petani. Untuk potong lajur birokrasi, jalan pintas diambil untuk menurunkan anggaran langsung dari pusat ke lapangan dengan pola ”Proyek Inpres, Instruksi Presiden”. Irigasi sekunder dan primer perlu semen, maka pabrik semen dibangun. Pupuk dibutuhkan banyak, maka pabrik pupuk dibangun. Tak banyak seminar di masa itu, pertemuan lebih banyak dengan petani di tingkat desa. All out to get things done adalah suasana yang hidup mengejar sasaran swasembada pangan yang dicapai pada tahun 1984.



Pelajaran kelima adalah posisi seorang intelektual yang dibedakan dengan ”pekerja intelek” (intellectual worker). Seorang ”pekerja intelek” adalah seorang ”tukang intelek” yang ”menjual otaknya” kepada pembeli tanpa memedulikan ”untuk apa hasil otaknya dipakai”. Seorang ”pekerja intelek” semata-mata mengembangkan ilmu dan menghasilkan karya hasil otaknya dengan imbalan, titik. Sesudah itu, tanggung jawab pembeli hasil otak.

Berbeda halnya dengan seorang ”intelektual” yang pada asasnya adalah seorang ”pengkritik sosial” (social critic) dan bekerja mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah untuk mencapai masyarakat yang lebih baik, lebih berperikemanusiaan, dan lebih rasional. Dengan demikian, intelektual itu tumbuh menjadi hati nurani masyarakat, the conscience of the society, yang mendambakan perubahan ke arah perbaikan untuk kemaslahatan masyarakat.



Demikianlah lima hikmah yang bisa dipetik dari buku yang ditulis oleh Widjojo Nitisastro yang telah mencurahkan bagian besar hidupnya bagi pembangunan Indonesia.



Semangat zaman telah berubah kini. Tantangan pembangunan masa kini dan nanti telah berbeda. Sungguhpun diperlukan pola pembangunan yang berlainan agar lebih sesuai dengan tuntutan masa, tetapi kelima-lima pokok hikmah di atas tetap bisa digunakan untuk mengisi tuntutan masa baru dan mengisyaratkan tetap perlunya kerja pembangunan dengan inner logic ekonomi, prinsip efisiensi, maintenance of the objectives, all out to get things done, dan sikap jiwa seorang intelektual pembawa hati nurani masyarakat.


Dalam Perjalanan di kawasan TNDS selalu bertemu dengan nelayan-nelayan yang menangkap ikan di danau, Danau Sentarum merupakan sumber penghidupan nelayan air tawar..


Kerajinan tenun ikat merupakan warisan leluhur dan memiliki nilai artistik tinggi. Kain tenun ikat Kabupaten Sintang dipintal dan dijadikan kain oleh perempuan - perempuan suku Dayak, Motif tenun beragam dan memiliki makna tersendiri. Entitas Tenun ini melambangkan kerajinan, sejarah dan seni. Di Kab. Sintang gerakan revitalisasi budaya tenun ikat dimotori oleh Yayasan Kobus, Yayasan ini didirikan oleh pastor Mensen, beliau merupakan misionaris katolik dari Belanda dan telah berkarya lebih dari 50 Tahun di Bumi Kalimantan.


Polusi, penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, rusaknya lapisan Ozon, pemanasan global semua ini adalah beberapa permasalahan lingkungan yang kita hadapi saat ini. Dari mana mereka timbul … ?

Untuk mendapatkan jawabannya, kita memerlukan pengertian bagaimana kita berinteraksi dengan alam dan lingkungan.

Semua sumber yang diperlukan untuk menopang hidup berasal dari alam. Alam ini menyediakan bahan baku untuk industri, bahan makanan untuk manusia, bahan bakar untuk transportasi dll. Lingkungan sebagai temapt sampah dari kegiatan manusia sehingga alam sebagai sumber dan buangan dari kegiatan mausia.

Sebagai contoh di badan air sebagai tempat hidup mahluk hidup, airnya sebagai irigasi yang diperlukan oleh masyarakat. Mereka juga membuang sisa pupuk dan pestisida dari kegaitan pertanian dan industri

Cara manusia berinteraksi dengan alam dan lingkungan berpengaruh dengan kesehatan dan kesejahteraan manusia sendiri.

Saat ini masalah lingkungan menjadi sangat serius dan perlu segera penangannnya karena pemanfaatan alam yang berlebihan sehingga terjadi perubahan keseimbangan alam.

Semua permasalahan ini berdampak pada kesejahteraan manusia. Beberapa dari masalah lingkungan langsung berdampak pada manusia. Sebagai contoh salah satu dari dampak peningkatan pemanasan global adalah menyebarnya vektor dari penyakit malaria karena konsdisi iklim yang semakin meningkat.

Masalah lingkungan dapat juga berdampak dalam waktu yang cepat dan lama. Sebagai contoh berdampak cepat dari penggundulan hutan berdampak kepada masyarakat dimana mereka tidak dapat lagi dengan mudah mendapatkan bahan bakar kayu dan makanan ternak. Dampak yang memerlukan waktu seperti erosi, kehilangan batas air dll.

Pemecahan permasalahan dan pencegahan satu dari meningkatkan keperluan akan kesadaran dan apresiasi pada hubungan antara lingkungan yang baik dan kesejahteraan manusia .

Dimana pendidikan sangat penting untuk membawa lingkungan dan pembangunan perhatian terhadap keprihatinan masyarakat, memungkinkan mereka memahami hubungan antara keduanya, mendorong mereka untuk mengambil tindakan yang semestinya dan membekali mereka dengan keahlian yang sepantasnya untuk mengambil tindakan yang dibutuhkan – Pendidikan diperlukan untuk semua hal itu.



Pendidikan ini, mengacu sebagai “Education for Sustainable Development” dari perspektif lingkungan hidup yang dibagi sebagai proses yang ditujukan pada pertumbuhan populasi dunia yang sadar dan perhatian terhadap “lingkungan hidup dan keberlanjutannya secara total” dan masalah-masalah terkait di mana memiliki pengetahuan, sikap, komitmen dan keahlian untuk bekerja secara individual dan bersama-sama terhadap pengambilan keputusan dari masalah-masalah yang ada dan pencegahan dari masalah baru.

Salah satu prinsip dari pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, bertindak kepada lingkungan secara total – secara alami dan mengembangkan teknologi dan social (ekonomi, politik, sjarah, moral dan estetika). Konsern ESD tidak hanya dengan alam dan lingkungan tetapi juga dengan ekonomi, social dan kesejahterann manusia.

Dengan pendekatan yang holistic, ESD berpotensi berkontribusi untuk menjaga alam dan lingkungan juga kesejahteraan manusia. ESD mempromosikan pembangunan berkelanjutan.

Chapter 36 of agenda 21 states:
“Education is critical for promoting sustainable development and improving the capacity of people to address environment and development issues… it is critical for achieving environment and ethical awareness, values and attitudes, skills and behaviour consistent with sustainable development and for effective public participation in decision making.”


Pendidikan Lingkungan dan pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah meningkatkan kemampuan yang diinginkan sebagai tujuan. Dimana pendidikan dan kesadartahuan sebagai alat untuk menfasilitasikan pembangunan berkelanjutan yang akan dipahami secara kritis.

Pendidikan lingkungan mengambil kedudukan yang penting dalam pertemuan forum LSM pada pertemuan tingkat tinggi dunia dimana menghasilkan prinsip –prinsi untuk mengacu ke masa depan dari pendidikan lingkungan :.

• Pendidikan lingkungan terlibat pendekatan secara holistic dan berfokus pada inerdisiplin dalam hubungannnya antara manusia , alam dan jagat raya.

• Pendidikan lingkungan harus menstimulasi solidaritas dan respek hak asasi manusia melibatkan demokrasi dan membuka iklim dari pertukaran budaya.

• Pendidikan lingkungan akan menangani masalah global,yang disebabkan hubungan pendekatan yang sistematik dimana social dan sejarah masalah yang mendasar dalam hubungan pada pengembangan dan lingkungan, seperti populasi, kesehatan, perdamaian, hak asasi manusaia, demokrasi , kelaparan, menurunnya jumlah flora dan fauna harus ada didalamnya.


Perempuan Tani & Pertanian Organik

Sebelum masa pertanian modern, perempuan menguasai sekitar 60% proses produksi mulai dari seleksi benih hingga panen. Kaum perempuan khususnya keluarga miskin menghidupi keluarga dengan memperoleh pekerjaan selama panen, sehingga menyumbang kepada pemasukan rumah tangga secara berarti. Pertanian modern (revolusi hijau) menggusur perempuan dari peran mereka di sawah, sementara anggapan bahwa laki-laki adalah pemimpin rumah tangga mengakibatkan banyak informasi tentang program ini tidak menyentuh kaum perempuan. Belum lagi tipe padi dan teknologi yang digunakan secara sistematik mengabaikan perempuan, input produksi juga menyimpan residu kimia dalam tubuh perempuan.

Bulir-bulir padi yang dihasilkan dari tanah subur selalu menjadi harapan untuk kehidupan, Dari tangan-tangan kekar dan keringat para petani kecil ini pangan kita tersedia. Kesetiaan mereka memproduksi pangan terus menerus membuat kita luput dari kelaparan, namun apakah nasib mereka sebaik dan sepulen beras yang dihasilkan?
Kemiskinan selalu melekat dalam diri petani, perlindungan dan keberpihakan tidak pernah mereka dapatkan, sungguh miris nasib petani kecil, pangan yang dihasilkan tak pernah dihargai dengan harga pantas oleh pasar. Biaya produksi semakin meningkat dan ancaman perampasan tanah dan konversi lahan pertaniannya menjadi peruntukan lainnya semakin tinggi. Celakanya proses ini dikarenakan oleh istilah Pembangunan
Senin, 11 Januari 2010 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Makin masifnya pengembangan pertambangan dan kelapa sawit karena pemerintah berpandangan kedua kelompok usaha ini bisa menjamin keselamatan keuangan negara. Padahal, makin masifnya kegiatan pertambangan dan kelapa sawit mempercepat kehancuran kelapa sawit.



”Pada tahun 2009 kita lengah dengan adanya berbagai agenda politik seperti pemilihan legislator dan presiden. Pada kesempatan itulah, korporasi-korporasi besar berekspansi besar-besaran untuk usaha ekstraktif pertambangan dan perkebunan kelapa sawit,” kata Chalid Muhammad, mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi), Jumat (8/1), dalam peluncuran Environmental Outlook 2010 Walhi di Jakarta.

Menurut Chalid, para pengusaha makin leluasa mengembangkan usaha setelah ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008. PP itu mengatur jenis dan tarif penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk pembangunan di luar kegiatan kehutanan.

Kebijakan tersebut, menurut Chalid, memungkinkan perusahaan leluasa mengeruk dengan murah hasil-hasil tambang, selanjutnya membawa keluar dari wilayah Indonesia.

”Indonesia telah disempurnakan derajatnya sebagai pelayan kepentingan negara-negara asal pengusaha ambisius dari Amerika Serikat, Australia, negara di Eropa, China, dan India,” ujar Chalid.

Di dalam buku Environmental Outlook 2010 disebutkan, luas keseluruhan area kontrak karya mineral dan batu bara telah mencapai 44 juta hektar atau 44 persen luas hutan Indonesia. Luas perkebunan sawit mencapai 26,7 juta hektar di 17 provinsi.

Hadir dalam kegiatan diskusi itu, putri bungsu almarhum Abdurrahman Wahid, Inayah Wulandari.

Kehadiran Inayah terkait prosesi penobatan Abdurrahman Wahid sebagai Pejuang Penyelamat Lingkungan oleh Walhi. Menurut Berry, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menunjukkan komitmen pejuang penyelamatan lingkungan dari aktivitasnya, terutama periode 1980 hingga 1996, yang aktif dalam Gerakan Antinuklir.

Inayah mengatakan, ayahnya pernah mengemukakan, negara yang berdaulat tanpa memerhatikan isu lingkungan sama saja tidak berdaulat. (NAW)


Kertas Posisi AOI: ”Wujudkan Danau Sentarum Lestari”
Rabu, 04 Februari 2009

Madu Hutan di Kapuas Hulu
Sejak tahun 2005 AOI bersama anggotanya di Kalimantan Barat menjalankan program pengembangan potensi madu hutan Danau Sentarum guna mewujudkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di kawasan itu. Inisiatif ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari inisiatif LSM lain dan masyarakat Danau Sentarum yang telah dilakukan sejak tahun 80-an. Proses panjang sejak tahun 2005 menghasilkan sebuah Sistem Pengawasan Mutu Internal (SPMI) bagi produsen kelompok kecil usaha madu hutan untuk memperoleh sertifikat organis. Sistem ini menjamin kelompok ini secara internal melakukan pengawasan terhadap dirinya dan terdokumentasi secara tertulis yang dapat diperiksa oleh pihak lain secara obyektif. Pada awalnya, pengorganisasian meliputi lima periau (organisasi tradisional pengelola madu hutan) di Desa Nanga Leboyan (periau Suda, Meresak, Danau Luar, Semangit dan Semalah) yang menjadi pendiri Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS). APDS berkembang menjadi delapan periau (Periau Pulau Majang, Nanga Telatap, dan Tempurau). Diharapkan pengorganisasian menggunakan SPMI ini akan meliputi semua periau di Taman Nasional danau Sentarum, yaitu 33 periau.

4 Milyar dari Madu Sentarum
APDS pada tahun 2007 berhasil menerapkan SPMI dan memastikan 4,3 ton madu hutan organis yang dihasilkannya organis. Ini dilegalkan oleh BIOCert (Board of Indonesian Organic Certification) dengan memberikan Sertifikat Organis bagi APDS, yang diserah terimakan oleh Menteri Kehutanan di Cisarua, Bogor. Saat ini anggota APDS telah mencapai 175 orang. Produksi pada musim panen 2008-2009 mencapai 16,5 ton. 10 ton berhasil dijual ke Dian Niaga Jakarta, 1,5 ton berhasil dijual ke Riak Bumi. Total omzet dari penjualan itu mencapai
Rp 517.500.000,- Dalam tahun ini APDS dengan dukungan AOI, berusaha untuk dapat mengekspor madu hutan organis bersertifikasi ke Serawak dan Brunai. Diharapkan dari keseluruhan 33 periau, total produksi mencapai sekitar 30 ton, maka omzet akan mencapai Rp 4 Milyar. Sebuah nilai ekonomi yang tidak kecil dan diperoleh dengan melalui proses pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis pada ekonomi rakyat. Patutkah hal ini diabaikan?

Perkebunan Sawit Skala Besar
Ancaman eksternal terbesar adalah pengembangan perkebunan sawit berskala besar di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum. Pengalaman praktek yang telah diperlihatkan selama ini bahwa pembangunan perkebunan kelapa sawit berskala besar telah merusak sistem ekonomi, ekologi dan sosial budaya masyarakat setempat.

Sikap dan posisi AOI
Berangkat dari adanya ancaman besar tersebut diatas maka kami menyerukan kepada semua pihak terutama pemerintah nasional maupun pemerintah daerah kabupaten Kapuas Hulu untuk segera membebaskan kawasan zona penyangga danau Sentarum dari program dan kegiatan pembangunan yang mengancam kelestarian dan keberlanjutan kawasan danau sentarum, termasuk didalamnya Perkebunan Sawit Skala Besar. Rencana tata ruang dan wilayah bagi kawasan Danau Sentarum dan zona penyangganya yang menempatkan perkebunan kelapa sawit didalamnya adalah sebuah kebijakan politik yang tidak berpihak pada rakyat dan akan mengancam keberlanjutan pembangunan bangsa dalam banyak dimensi.

Pontianak, 2 Februari 2009
Aliansi Organis Indonesia (AOI)


Rasdi Wangsa
Direktur Eksekutif



Lorens
Dewan Perwakilan Anggota

Aliansi Organis Indonesia (AOI) Anggota AOI Kalimantan Barat
Jl. Kamper Blok M No. 1, Budi Agung, Yayasan Riak Bumi, Yayasan Dian Tama,
Bogor-Indonesia PRCFI, Lorens, Irawan, APDS
Telp/fax.: 0251-81316294
Email:
organicindonesia@organicindonesia.org
Website:
www.organicindonesia.org


Rumah panjang / long house merupakan struktur arsitektur tua dan memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Dayak, Entitas Rumah panjang selalu melekat dengan karakter sosial komunal sebuah masyarakat adat,Menurut cerita orang tua terdahulu rumah panjang saham didirikan pada tahun 1875. Rumah tersebut terdiri dari 35 pintu dan panjang 180 meter yang dihuni oleh suku Dayak Kanayatn Bukit. Kehidupan sosial masyarakatnya memegang teguh adat istiadat, tradisi.budaya dan kehidupan bersama (gotong royong).

Desa Saham terdiri dari satu rumah panjang dan rumah-rumah tunggal yang mengikuti pola masa kini. Sebelumnya seluruh penduduk tinggal disatu rumah panjang sebagai satu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat Dayak, Rumah panjang bukan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun juga sebagai pusat perkembangan budaya serta tradisi.
Sebagai peninggalan budaya Dayak Kanayatn, rumah panjang di Saham layak dijadikan objek pariwisata. Adapun faktor-faktor yang mendukung itu adalah kegiatan budaya, kesenian, adat istiadat, kehidupan religi, pertanian, mata pencaharian, kehidupan bermasyarakat. Sebagai pusat kebudayaan rumah panjang juga merupakan pusat lahirnya jenis-jenis kesenian yang berkaitan langsung dengan adat istiadat dalam bentuk upacara-upacara. Masyarakat Dayak selalu menandai setiap peristiwa dalam kehidupan dengan upacara, dalam kondisi inilah lahir tarian, musik, seni ukir, seni tato, seni menganyam, tenun, tata boga, dan sebagainya.
Sebagai contoh upacara mengawali dan mengakhiri proses perladangan. Sebelum musim tanam dimulai, dilakukan upacara untuk memberkati seluruh peralatan yang digunakan dalam pertanian, dengan upacara adat untuk mendapat restu dari roh leluhur serta Jubata ( Yang Maha Tinggi ). Seluruh rangkaian proses pertanian tersebut ditutup dengan upacara memanjatkan syukur ( Naik Dango ). Diupacara inilah biasanya masyarakat Dayak di rumah panjang Saham tampil dengan busana adat terbaik, perhiasan, tari, musi, makanan-makanan dan minuman khas tradisi Dayak. Seluruh rangkaian upacara tersebut masih dapat kita temui di rumah Panjang Saham.

Ikan arwana atau Arwana Asia (Scleropages formosus) adalah salah satu ikan paling favorit di dunia. Dengan ketahanan fisik yang kuat, harga yang mahal dan pecinta arwana yang ada dimana-mana menjadikan arwana menjadi ikan legenda.Legenda arwana menjadi cerita menarik, namun nasib arwana tak sebagus harganya,populasi ikan arwana dialam semakin menyusut, bahkan nyaris hilang. Salah satu habitat arwana terkenal adalah Danau Sentarum di Kapuas Hulu.

Danau sentarum selalu kaya dengan cerita, potensi ikan yang luar biasa memberikan penghidupan masyarakat di sekitar dan didalam kawasan, selain dijual sebagai produk segar, ikan-ikan diolah menjadi ikan asin. Ikan-ikan asin ini merambah pasar lokal hingga Malaysia, orang kadang lupa darimana asal muasal ikan asin berkualitas ini. Jenis ikan yang diasinkan beragam mulai dari jenis ikan toman, lais, biawan dan masih banyak lagi. Ikan ikan ini diolah dari ikan segar , dibersihkan dan direndam dengan garam kemudian dikeringkan melalui penjemuran langsung sinar matahari. Harga ikan asin bervariasi dari Rp.5000 hingga Rp.20.000/kg nya. Ikan asin yang diproduksi oleh masyarakat tanpa pengawet dan dijamin bagus mas, demikian pak Haryanto salah satu nelayan di Leboyan. Bahkan kami ingin mendorong bagaimana produk kami ini memiliki pasar yang luas, kami berusaha menjamin mutunya. Belajar dari produk madu yang telah mendapatkan pengakuan pasar dan disertifikasi oleh Biocert, kelompok nelayan ini sedang berusaha meyakinkan kelompoknya melalui sistem penjaminan mutu bersama dan pemasaran yang teratur dapat meningkatkan keuntungan dan pendapatan mereka. Sektor perikanan merupakan sektor utama sumber penghasilan masyarakat di TNDS, 70% sumber penghasilan dari ikan dan sisanya dari madu hutan.
Saat ini raut muka nelayan selalu menyisakan kesedihan dan kerisauan terhadap menurunnya populasi ikan , kami kuatir dengan semakin dibukanya kawasan penyangga DanauSentarum akan berakibat bagi kelestarian ikan dan pasti menciptakan kesengsaraan bagi kami,demikian menurut Pak Herwanto salah satu nelayan di TNDS. TEringat jelas ketika terjadi penjarahan dan aktivitas ilegal logging disekitar TNDS oleh Cukong , kondisi air danau selalu keruh dan ikan-ikan berkurang..apalagi kawasan tersebut diubah menjadi kawasan perkebunan. Tentunya kegelisahan ini direspon oleh penguasa yang memberikan ijin konsesi kepada perusahaan, 9 perusahaan besar telah mengancam kami, dan ancaman hanya menunggu waktu.
Surga ikan dan cerita tentang ikan akan berakhir, bencana baru akan datang...10.000 kepala keluarga yang tergantung dari ikan akan menjadi orang-orang sengsara dan kehilangan sumber penghidupan. Ironis dan memilukan....
Memoirs of Sungai Cabang, tanggal 4 April 2003 kakiku menapak bibir pantai Sungai Cabang, sebuah desa terpencil di pesisir selatan Tanjungputing , daerah yang tertutup karena hanya dapat ditempuh melalui perjalanan laut dari Kumai , Kalimantan Tengah. 5 jam perjalanan menggunakan speed boat dan tentunya membuat penat badan. Pukul 4 sore kami tiba disana, beberapa anak anak nelayan menyambut kedatanganku dan mereka tersenyum ramah sambil bermain di pantai. Aku menanyakan rumah kepala desa dan meminta mereka mengantarku ke rumahnya. Sore itu aku mengenalkan diri kepada Kades dan misi program yang kuemban selama 2 tahun disini, disepakai bahwa malam pertama akan dilakukan pertemuan dengan masyarakat Sungai Cabang sekaligus melakukan sosialisasi progam Pendidikan Petani.
World Education akan bekerja di beberapa desa di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting,program pembangunan masyarakat untuk medorong konservasi TNTP menjadi misi program tersebut. Tak kusangka aku bisa berada di desa yang semuanya terbatas, minggu pertama aku mengalami stress luar biasa, tidak lagi mengenal Handphone, TV dan berbagai media komunikasi, serasa berada dalam dunia pengasingan dan kembali ke masa lalu,waktu terus berlalu, mengalami kehidupan bersama nelayan , petani dan keluh kesah pendidik yang serba berkekurangan menjadi memori yang tak pernah terlupakan, banyak pelajaran berharga kudapatkan bersama mereka. Kenangan ini memperkuat komitment untuk terus berjuang brsama kaum miskin.
Memulai Tahun 2010 aku mengunjungi petani di desa Saham dan Sebatih,perjalanan kali ini ditemani oleh anak-anak. satu hal yang menarik adalah mengenalkan tentang sawah dan padi kepada mereka. Jam 8.00 pagi hari beberapa petani sudah berkumpul di saung pertemuan, saung tersebut berada di hamparan persawahan tepi parit yang mengaliri sawah sawah disekitarnya. Inti pertemuan pada kesempatan ini adalah membuat rencana kerja bersama kelompok tani dalam sistem produksi pangan.
Persoalan produksi pangan menjadi penting karena pentingnya pemenuhan pangan bagi semua orang. Ketersediaan pangan merupakan indikator utama kesejahteraan masyarakat, persoalan produksi pangan tidak hanya bicara tentang tekhnis pertanian tetapi juga menyangkut kemandirian petani dan peningkatan sumber daya yang ada. kegagalan revolusi hijau menjadi refleksi balik bagi semua orang, apakah yang salah dari sistem ini?
salah satu awabannya adalah , penerapan program revolusi hijau secara masif ternyata membangun ketergantungan petani terhadap input produksi terutama penyediaan pupuk, pestisida dan berbagai sarana produksi lainnya, punahnya pengetahuan lokal dan semakin tingginya input produksi ternyata tidak sebanding dengan harga jual produk pertanian. ketergantungan ini menjadi akar masalah pertanian dan petaninya, dalam pertemuan bersama petani ini akhirnya disepakti akan dilaksanakan pelatihan tentang kompos....