Perjalanan kali ini diawali dengan kendaraan air yakni speed boat, packing segala peralatn kami periksa lagi untuk memastikan semuanya aman terutama peralatan elektronik. Tidak cukup hanya menggunakan tas , kantong plastik berlapis lapis sangat baik untuk menghindari segala ancaman basah sepanjang perjalanan. Sungai kapuas cukup tenang walaupun kondisi airnya sudah keruh dan penuh dengan material kotor yang berasal dari limbah rumah tangga maupun penambangan emas serta erosi tanah diperhuluan.Perjalanan sepuluh menit akhirnya membawa kami ke Muara Sei Melawi..owh ternyata air sungai ini jauh lebih parah kondisinya, warna keruh luar biasa , menurut temanku ini terjadi sejak sepuluh tahun terakhir ini dan diakibatkan oleh semakin maraknya penambangan emas tanpa ijin disepanjang badan dan pinggir sungai. Memang ini realitas karena sepanjang perjalanan jumlah lanting penambang lengkap dengan peralatannya menyemburkan bongkahan kerikil dan tanah didasar dan pinggir sungai.Pemandangan ini semakin miris lagi karena dibekas penambangan terlihat pendangkalan sungai dan pulau baru ditengahnya, ini dipastikan sangat menghambat jalur transportasi sungai yang sangat penting bagi masyarakat.
KOndisi ini akan kelihatan sangat pparah pada musim kemarau, bahkan suplai material dan beberapa barang konsumsi serta BBM langka ditemukan terutama di daerah perhuluan karena jalur transportasi sungai sudah tidak bisa dilewati lagi. melewati perjalanan enam jam akhirnya kami tiba di kecamatan Serawai, Kecamapatan Serawai merupakan kecamatan kedua yang berada di wilayah perhuluan. Kami akhirnya memutuskan untuk menginap semalam dan besok akan melanjutkan perjalanan ke Tontang.
Pukul 07 .00 kami sudah bersiap siap kembali menuju pangkalan speed boat....next
Kami memiliki kepentingan dan menggantungkan hidup kami dari kawasan ini, aliran sungai dan kawasan hutan itu bagaikan sosok sang ibu yang memberikan kami makanan dan melindungi kami dari kelaparan. demikian diucapkan Patih Leo salah satu pengurus adat dan masyarakat yang hidup di salah satu dusun di sepanjang Daerah Aliran Sungai Labian Leboyan. Demikian juga bagi Haryanto dan ribuan jiwa yang hidup dibagian hilir sungai ini, mereka sangat tergantung dengan tangkapan ikan buat melanjutkan kehidupannya dan menyekolahkan anak anak mereka. Dibagian hilir mata pencaharian penduduk adalah nelayan dan setiap hari mereka selalu menjala, memasang pukat, memancing dan memasang bubu (tembilar). Hasil tangkapan ikan ini mereka jual dan diolah menjadi ikan asin, ikan salai (asap), kerupuk dan temet(kerupuk basah).
Daerah aliran sungai Labian Leboyan merupakan salah satu kawasan essensial yang menghubungkan taman Nasional Betung KErihun dan Danau Sentarum, terdiri dari 28 kampung dan 8 desa yang dialiri langsung oleh sungai ini, sedemikian pentingnya kawasan ini karena menjadi salah satu sumber penghidupan (livelihood)sejak jaman dahulu, sekarang dan dimasa depan. Kesadaran akan pentingnya mengelola kelestarian sumber nafkah dan sosok sang ibu inilah yang menjadikan kami berpikir bahwa pentingnya kesadaran bersama dan bersama sama mengelola dengan arif , sejak berakhirnya aktivitas ilegal logging pada tahun 2006 kami merasakan peningkatan jumlah ikan dan membaiknya kualitas air sungai, pada masa itu sungai kami keruh dan penuh dengan sampah kayu dan serasah lainnya. Perbuatan ini diakibatkan oleh cukong dan segelintir manusia serakah yang mengambil keuntungan dengan menebang hutan diatas.
Ide tentang pembentukan forum komunikasi masyarakat dialiran sungai Labian Leboyan ini diawali dengan kesepakatan masyarakat di wilayah hulu (Mensiau, Labian Iraang, Labian dan Sui Ajung). Tujuan pembentukan forum adalah untuk membangun media komunikasi terkait pengelolaan sumber daya alam dan membangun akses masyarakat dengan pihak lainnya. Kami sagat sadar bahwa selama ini kami hanya sebagai penonton dalam menentukan perencanaan didaerah kami, melalui forum ini kami ingin duduk sejajar dan setara dengan semua pihak. demikian diucapkan Yosef Undja salah satu inisiator Forum DAS.