![]() |
| Ilustrasi, Sumber: http://sansrise.wordpress.com/ |
Demikian juga kebiasaan para peladang di desa Tanjung kecamatan Mentebah Kab. Kapuas hulu. Desa ini terletak di kawasan pegunungan Muller Sachwanner yang membentang dari wilayah borneo barat dan tengah.
Sebelum membakar mereka membersihkan tepi ladang dengan membuat sekat bakar disekeliling ladang, sekat bakar ini bertujuan untuk menghindari api menyeberang kesekeliling dan membuang serasah atau apa saja yang mudah terbakar. Lebar sekat bakar biasanya disesuaikan dengan kondisi vegetasi dan biomassnya, semakin tebal biomasnya maka sekat bakarnya semakin lebar dan harus lebih bersih. Pembuatan sekat bakar ini dilakukan sehari sebelum pembakaran .
Semua proses dilakukan secara bersama sama dan melibatkan kaum lelaki dan perempuan, demikian juga pemilik lahan sekelilingnya selalu ikut terlibat dan membantu kegiatan pembakaran ini. Keberadaanku seolah olah membuat suasana menjadi lain, aku jadi berpikir mengapa mereka memperlakukanku begitu istimewa heheheh, seduhan kopi selalu mendapatkan gelas pertama dan menikmati penganan sebelum pembakaran sambil mendengarkan mereka melakukan briefing untuk aksi yang bakal seru ini.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan jumlah orang dan pengalaman yang dimiliki, akhirnya disepakati pembakaran akan dilakukan dari arah selatan kemudian dilakukan pembakaran disemua sisi ladang...prediksinya dalam waktu setengah jam api akan menjalar ketengah ladang dan akan bertemu dengan sumber api dari berbagai penjuru.
Api mulai disulut dari setiap sisi , semakin lama semakin membesar, bergerak menghanguskan satu demi satu biiomass dan setiap jengkal ladang...dari jauh terdengar letupan letupan kecil dan besar secara bersambungan dari bambu bambu kering. Teriakan teriakan perintah dan arahan pimpinan regu terdengar juga. Kami sibuk berlarian sambil mencoba memadamkan api api kecil yang masih hidup disis ladang dengan sprayer dan kayu yang sudah dibelah menyerupai kipas dibagian ujungnya.
Badan terasa terpanggang dan mata perih karena asap , semuanya harus dilakukan dengan sigap dan cepat. pembagian untuk mengisi air ditangki tangki sprayer dilakukan secara marathon . setengah jam proses ini berlangsung dan akhirnya api semakin membesar kearah tengah . bak puncak dari sebuah selebrasi api unggun kami semua merasa lega .Namun bukan akhir dari sebuah kegiatan, kami harus memastikan sekat sekat bakar aman dan tak ada api yang menjalar lagi. Setelah selesai semua sema orang berkumpul dan meneguk air, seperti keluardari sebuah tungku kurasakan panas luar biasa dan berteduh dibawah pohon besar sangat nikmat.
setiap orang berkisah tentang apa yang terjadi, ada yang menegangkan ada juga cerita lucu dan cerita itu menjadi mozaik kisah peladang dan api,,,,kearifan peladang memperlakukan api dan kisah kisah inspiratif ini sangat menarik perhatianku hingga tak sadar kalau sore telah menjelang malam,,,,beriringan dengan mereka aku pulang kekampung dan menanti acara malam bersama para peladang, kami sepakat akan menonton film dokumentasi tentang tekhnik pertanian organik. Mereka sangat haus dengan informasi dan pengetahuan yang bisa mereka jadikan modal untuk membangun pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
| pembakaran ladang |
| berlari memadamkan api |
kedatanganku disore hari disambut dengan keramahan masyarakat desa Tanjung, memang sudah diprediksi perjalanan dari kota Sintang selama 6 jam dengan mobil akan tiba menjelang malam, Setelah rehat sejenak tak sabar lagi menjelajah kampung ini. Sore itu kami mandi disungai dengan kondisi air yang jernih dan sejuk. Berbatuan sungai dan ikan ikan kecil yang hidup disana seolah olah mengundangku untuk segera berenang menikmati sejuknya air yang mengalir dari pegunungan Muller. rasa letih dan penat setelah menmpuh perjalanan panjang hilang dan disegarkan dinginnya air yang mengalir jernih diantara bebatuan dari pegungungan Muller.
Seperti kisah sebelumnya bahwa Desa Tanjung ini merupakan perkampungan terakhir yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di pegunungan Muller Swanner yang merupakan ladskape pembatas administrasi Borneo barat dan Tengah., masyarakat Tanjung sebagai penjaga terakhir kelestarian kawasan ini patut berbangga karena mereka masih menikmati kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah. Tanah yang subur memberikan mereka kebun dan ladang ladang yang subur ,kekayaan mineral memberikan mereka emas yang didulang setiap hari dan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tradisi masyarakat peladang yang masih arif dalam mengelola ladang ladangnya.
Setelah selesai menikmati makan malam bersama warga desa, kami berdiskusi tentang tujuan kedatangan dan persiapan yang akan dilakukan selama empat hari kedepan. Kepala Desa telah memastikan bahwa semua masyarakat sangat antusias untuk terlibat dalam sekolah lapang persiapan lahan dan pembangunan pembibitan tanaman karet.
Pertemuan malam ini semakin menguatkan komitmen untuk memulai langkah perubahan pola budidaya kebun karet yang mereka miliki, kebutuhan hadirnya orang lain yang mendampingi mereka segera terwujud, kondisi sebelumnya mereka belum pernah mendapatkan sentuhan langsung dari Pemerintah.
Tak sabar menunggu pagi untuk memulai observasi lapang bersama mereka , kusiapkan sejumlah peralatanku seperti kamera dan meteran.
Saat pagi tiba aku telah menyelesaikan sarapanku dan menunggu perwakilan kelompok menjemput untuk pergi ke lokasi yang akan dijadikan pusat belajar pembibitan. Perjalanan lima belas menit melewati jalanan setapak akhirnya tiba dipinggir sungai suruk ,Sungai ini mengalir dari pegunungan Muller hingga bermuara ke sungai Kapuas . Letak lahan yang akan dijadikan demplot pembelajaran terletak dipinggir sungai , pemilihan lokasi ini sesuai dengan persyaratan tekhnis pembibitan seperti lokasi harus dekat dengan sumber air dan relatif datar. Sekilas memandang dari kejauhan areal yang sudah disiapkan seperti mozaik coklat diantara warna warna hijau. Perasaanku jadi gugup karena disana telah menunggu tidak kurang enampuluhan petani yang terdiri dari kelompok laki laki dan perempuan. Wajah mereka penuh harap dan bersemangat menyambut diriku dan menunggu apa yang akan dimulai.
Setelah perkenalan dan menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan dengan lahan demplot akhirnya aku menemukan tantangan pertama yakni menilai kesesuain kontur untuk pembagian ruang pembibitan .
Panas terik semakin terasa namun semangat mereka tak pernah surut dan sesekali terlihat canda dan obrolan serius.
Suprise bagiku melihat dan mengalami canda ditengah ladang dan orang orang saling mencoreng muka kawannya dengan arang dari pembakaran kayu kayu..hahahahahahaha bak pasukan khusus yang siap tempur dan tiada lelah lagi yang terlihat karena harapan mereka jauh lebih besar untuk sebuah perubahan
Memulai proses bersama petani dilapangan
Gotong royong membersihkan lahan

