Beratnya beban kaum perempuan dalam hidup sehari hari , terutama kelompok perempuan didesa. Selain menjaga kelangsungan hidup keluarga mereka juga masih harus dibebani dengan kerja berat mencari nafkah. Semua organ bergerak untuk memenuhi hidup demi kasih sayang kepada suami dan anak anak. Dokument ini saya rekam dari desa di kawasan trans kalimantan pada tahun 2012.
Menghitung beban mereka bagaikan merapikan benang kusut dan ketidak adilan yang dialami sering disebut sebagai kodrat. Sungguh tragis bahkan hingga hari ini dan detik ini banyak perempuan yang pasrah dengan kondisi yang dialami.
Peringatan International Women’s Day ke-101 pada 8 Maret 2012 dicanangkan PBB dalam perayaan Women’s Day tahun ini adalah Empower Women – End Hunger and Poverty;
Menghitung beban mereka bagaikan merapikan benang kusut dan ketidak adilan yang dialami sering disebut sebagai kodrat. Sungguh tragis bahkan hingga hari ini dan detik ini banyak perempuan yang pasrah dengan kondisi yang dialami.
Peringatan International Women’s Day ke-101 pada 8 Maret 2012 dicanangkan PBB dalam perayaan Women’s Day tahun ini adalah Empower Women – End Hunger and Poverty;
Tema ini sangat relevan dengan kondisi perempuan perdesaan dan pada saat forum forum internasional membahas nasib mereka harapannya tekanan dan beban hidup mereka juga berkurang. pada saat jargon politik mensyaratkan komposisi perempuan dalam parlemen pun nasib mereka tak jauh berubah.
Tadi malam cendekiawan membahas isu kenaikan BBM , tak satupun dari pembicara dan pengamat ekonomi yang menyinggung beban perempuan ketika BBM dan persoalan politik dinegeri ini menjadi masalah serius.
Perspektif Gender adalah keberpihakan bukan lips service dan quota, keberpihakan ini harus diaktualisasi dalam pikiran dan tindakan.
Tadi malam cendekiawan membahas isu kenaikan BBM , tak satupun dari pembicara dan pengamat ekonomi yang menyinggung beban perempuan ketika BBM dan persoalan politik dinegeri ini menjadi masalah serius.
Perspektif Gender adalah keberpihakan bukan lips service dan quota, keberpihakan ini harus diaktualisasi dalam pikiran dan tindakan.
Ibarat pepatah bak telur diujung tanduk..begitulah yang pas dengan kondisi rumah ini. Bencana longsor akan mengakibatkan rumah ini roboh dan hanyut oleh banjir hanya menunggu waktu saja, rumah rumah ini berada ditepi sungai Mentatai yakni di desa Nusa Poring dusun Dawai. Sungai Mentatai merupakan salah satu sub Daerah aliran sungai Melawi di pedalaman Kalimantan Barat.
Bukan hal yang aneh jika pindah rumah dengan memindahkan semua peralatan dan rumahnya di kalangan masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum. Lanting (rumah terapung) merupakan salah satu bentuk rumah masyarakat nelayan yang hidup ditengah danau dan dipinggir sungai sungai besar di Kalimantan Barat.
Jadwal pindah lanting ini menyesuaikan dengan musim panen ikan dan kegiatan nelayan, lanting lanting dipindahkan ke danau danau yang akan selalu tergenang pada musim kemarau. Rumah lanting terbuat dari kayu, kondisi pondasi selalu terapung, jenis kayu yang dipakai sebagai pelampung adalah kayu kayu yang tidak tenggelam seperti jenis kawi, tengakawang (shorea sp) dan lain lain. Kegunaan lanting selain untuk rumah tinggal juga dipergunakan untuk mengolah ikan hasil tangkapan mereka dan menyimpannya, bahkan bagi para pengunjung atau orang luar bisa menginap disini dan menikmati kehidupan diatas air. Saat gelombang datang kita seakan berada di ayunan dan menikmati kehidupan yang berbeda.
Sebuah kehidupan yang asri dan mengikuti irama alam, lanting lanting ini akan berkelana dan selalu berpindah menurut tradisi nelayan..namun kehancuran habitat dan kondisi hidrologi akibat pembukaan hutan dan kawasan penyangga oleh perkebunan kelapa sawit di sekitar Danau Sentarum dipastikan kondisi ini akan hilang tergerus dan hanya menyisakan cerita belaka

