Keberangkatan kami ke desa Tanjung di Pegunungan Muller di sore hari membuat perasaan deg degan, betapa tidak ..yang terbayang perjalanan ini bakal berlanjut hingga malam, sepanjang jalan alunan lagu di mobil strada cukuplah sekedar mengusir kegalauan apalagi karena sang sopir pun ternyata baru pertama kali pergi kesana.
Perjalanan satu jam melalui jalur lintas selatan menuju kota Sintang dari Putussibau sudah sudah sampai di simpang Tanjung. Dari Simpang Tanjung kami masih harus menempuh dua jam perjalanan menuju ke desa . Perjalanan malam hari dengan Kondisi jalan yang masih berlubang dan melintasi perbukitan membuat adrenalin meningkat, suara burung malam dan sesekali terdengar menyambut malam membuat bulu kuduk bergidik juga hehehehehe..whatever lah.
Kantung Semar yang dikenal di kalangan masyarakat Kalimantan Barat dengan sebutan Kantung Kera adalah tumbuhan unik yang merupakan bagian dari fenomena satu hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati. Taman Nasional Betung Kerihun yang merupakan bagian penting dari hutan tropis dunia menjadi salah satu tempat hidup berbagai species tumbuhan ini. Sebagian besar ditemukan di daerah perbukitan/pegunungan dengan ketinggian diatas 1000 m dpl. Hal tersebut dikarenakan habitat tumbuhan ini adalah tapak-tapak yang miskin unsur hara.
Dari bentuknya yang unik dan jenis kantungnya yang sangat bervariasi dengan ukuran dan warna yang beragam pula, sering mengundang tanda tanya bagi yang menyaksikannya. Jika diteliti lebih jauh tidak hanya  fisiologisnya yang menarik namun cara hidupnyapun tergolong unik. Cara tumbuhan ini mendapatkan unsur hada adalah dengan memerangkap berbagai jenis serangga  dengan kantongnya untuk kemudian dicerna hingga mengeluarkan nitrogen dan unsur hara lainnya.
Rasa syukur atas berkat dan rejeki yang telah didapat dari Yang Maha Kuasa oleh petani dalam bulir bulir padi yang dipanen dari bumi ini dicerminkan dalam acara budaya Naik Dango. acara ini merupakan puncak dari siklus pertanian masyarakat adat Dayak Kanyatn di kabupaten Landak Kalimantan Barat. Setelah musim panen  dan bulir bulir padi akan disimpan dalam lumbung lumbung sebagai cadangan pangan ditahun berikutnya maka diadakan pesta adat yang mereka namakan Naik Dango.
Bulir bulir padi yang telah dipanen dari ladang ladang telah siap disimpan untuk cadangan pangan ditahun berikutnya, sebelum disimpan padi padi tersebut dibersihkan dengan cara ditampi dan dijemur dipelataran rumah betang(panjang) dengan alas tikar rotan yang diproduksi sendiri. suasana ini didokumentasikan dari rumah betang suku Iban di Dusun Tikalong kec. Batang Lupar kabupaten Kapuas hulu.
Umumnya aktivitas pasca produksi dilakukan oleh kaum perempuan , sesekali juga dibantu oleh kaum laki laki dan anak anak.
Sekilas hanya guratan berwarna dan ornament makro dari kulit lelaki lelaki kekar, bila dilihat dari jarak yang cukup dekat ternyata tatoo tersebut memiliki struktur dan menggambarkan simbol dari cerita pengembaraan lelaki Iban . Simbol utama adalah motif bunga terong yang terletak dibahu kiri dan kanan , motif ini menggambarkan ciri khas suku Iban . Setiap tatoo dibuat untuk mengenang peristiwa dan tempat pengembaraan mereka. Kebiasaan berkelana dan merantau lelaki Iban memberi kebanggan tersendiri.
Pria tua ini merupakan salah satu generasi pewaris tatoo Iban dan mendiami rumah panjang dengan tradisi kebudayaannya.
Membentuk koloni baru dengan bentuk setengah lingkaran, inilah cikal sarang lebah Aphis dorsata yang biasa disebut lebah madu hutan. Lebah lebah ini akan datang ketika musim bunga telah mekar dan memilih lokasi sarang pada jenis jenis kayu tertentu yang memiliki dahan yang kokoh dan aman.
Masa pembentukan sarang diawali dengan membentuk sarang muda dan berkembangbiak dalam koloni.
Jenis sarang yang berada pada dahan pohon tersebut biasanya disebut lalau , lalau terletak dipohon pohon besar dan ukuran sarangnya jauh lebih besar dibandingkan type lainnya yakni Tikung dan Repak. Sarang berada di dahan-dahan pohon, biasanya dalam satu pohon bisa terdiri dari sekitar 50 koloni. Pohon Lalau kalau dirawat biasanya setiap tahun akan dihuni lagi oleh koloni lebah. Kepemilikan sarang berdasarkan kepemilikan pohon. Pohon Lalau juga dilindungi oleh hukum ada di Masyarakat yang mendiami kawasan Taman Nasional Danau Sentarum
Memang proses pembuatannya tanpa campur tangan manusia dan bersifat alami namun masyarakat yang menjaga dan merawat pohon dimana lebah lebah tersebut bersarang merupakan kontribusi yang dihargai oleh warga setempat, karena itu pohon pohon yang menjadi tempat bersarang selalu terjaga dan lestari.
Jumlah sarang akan menentukan jumlah produksi madu hutan yang akan diperoleh setiap masa panen, kapasitas produksi berkisar antara 5 - 20 kg per sarang dan masa panen biasanya dilakukan saat kondisi sarang sudh matang, pengetahuan menilai sarang yang sudah siap panen ini juga menjadi khasanah pengetahuan yang luarbiasa di masyarakat adat.
Segala sesuatu merupakan milik DIA...memohon berkat dari Yang Maha kuasa dilakukan sebelum memulai segala sesuatu termasuk budaya pertanian. Acara ini dilakukan oleh masyarakat Dayak Iban di Dusun Tikalong Kec. Batang Lupar Kab. Kapuas Hulu. Upacara berdoa untuk mendapatkan berkat ini dipimpin langsung oleh Tuai Rumah (kepala suku) , berbagai jenis sesajen dipersembahkan seperti nasi, cucur, ayam dan beberapa jenis dedaunan dan buah buahan hutan. Imam yang bertindak memimpin acara ini akan mempersembahkan simbol simbol tersebut dalam doa lisan.

Kusujud dikaki salibnya.....sampai ku dapat ampun dosa...lagu ini sangat pas ketika nuansa religi dihadirkan lewat kokohnya bangunan gereja di kaki bukit Lanjak, Desa Lanjak Kec. Batang Lupar. Dibangun dengan arsitek lokal dengan gaya perpaduan antara timur dan Barat.