Rasa syukur atas berkat dan rejeki yang telah didapat dari Yang Maha Kuasa oleh petani dalam bulir bulir padi yang dipanen dari bumi ini dicerminkan dalam acara budaya Naik Dango. acara ini merupakan puncak dari siklus pertanian masyarakat adat Dayak Kanyatn di kabupaten Landak Kalimantan Barat. Setelah musim panen  dan bulir bulir padi akan disimpan dalam lumbung lumbung sebagai cadangan pangan ditahun berikutnya maka diadakan pesta adat yang mereka namakan Naik Dango.
Bulir bulir padi yang telah dipanen dari ladang ladang telah siap disimpan untuk cadangan pangan ditahun berikutnya, sebelum disimpan padi padi tersebut dibersihkan dengan cara ditampi dan dijemur dipelataran rumah betang(panjang) dengan alas tikar rotan yang diproduksi sendiri. suasana ini didokumentasikan dari rumah betang suku Iban di Dusun Tikalong kec. Batang Lupar kabupaten Kapuas hulu.
Umumnya aktivitas pasca produksi dilakukan oleh kaum perempuan , sesekali juga dibantu oleh kaum laki laki dan anak anak.
Sekilas hanya guratan berwarna dan ornament makro dari kulit lelaki lelaki kekar, bila dilihat dari jarak yang cukup dekat ternyata tatoo tersebut memiliki struktur dan menggambarkan simbol dari cerita pengembaraan lelaki Iban . Simbol utama adalah motif bunga terong yang terletak dibahu kiri dan kanan , motif ini menggambarkan ciri khas suku Iban . Setiap tatoo dibuat untuk mengenang peristiwa dan tempat pengembaraan mereka. Kebiasaan berkelana dan merantau lelaki Iban memberi kebanggan tersendiri.
Pria tua ini merupakan salah satu generasi pewaris tatoo Iban dan mendiami rumah panjang dengan tradisi kebudayaannya.
Segala sesuatu merupakan milik DIA...memohon berkat dari Yang Maha kuasa dilakukan sebelum memulai segala sesuatu termasuk budaya pertanian. Acara ini dilakukan oleh masyarakat Dayak Iban di Dusun Tikalong Kec. Batang Lupar Kab. Kapuas Hulu. Upacara berdoa untuk mendapatkan berkat ini dipimpin langsung oleh Tuai Rumah (kepala suku) , berbagai jenis sesajen dipersembahkan seperti nasi, cucur, ayam dan beberapa jenis dedaunan dan buah buahan hutan. Imam yang bertindak memimpin acara ini akan mempersembahkan simbol simbol tersebut dalam doa lisan.

Budaya menenun merupakan simbol kebudayaan yang dilakukan masyarakat, tenun memiliki nilai artistik tinggi dan membutuhkan keterampilan khusus. Kebiasaan menenun dilakukan oleh perempuan perempuan di Desa, tradisi tenun ini telah turun temurun dengan peralatan tradisional. Bahan kain tenun terdiri dari benang yang dibuat dari kapas, pewarna tenun diambil dari berbagai bahan alam seperti kulit kayu atau jenis jenis tanaman lainnya yang tumbuh dihutan tropis. Peralatan tenun terbuat dari kayu.
Produk tenun biasanya untuk baju, taplak meja dan selendang atau sal. Kain tenun akan dipakai saat upacara adat seperti pesta , menyambut tamu agung dan lain lain. Perempuan perempuan Iban memiliki keterampilan tinggi dalam memproduksi tenun. Berbagai motif tenun menggambarkan kisah dan simbol simbol kehidupan keseharian.