![]() | |
| by Tamin/Meliau- wwf Indonesia |
CLICK! (Communication Learning towards Innovative Change and Knowledge)berupaya menjembatani komunikasi dan aspirasi masyarakat melalui fotografi serta mendorong munculnya perubahan-perubahan positif yang bermanfaat bagi masyarakat dan alam sekitarnya. Tiap partisipan dipinjamkan sebuah kamera foto dan kamera video selama periode satu tahun untuk memotret kondisi alam serta kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekitar mereka.
Sebelum mulai berburu gambar, para peserta mendapatkan pelatihan singkat mengenai teknis penggunaan kamera dan ilmu dasar fotografi.
Kesempatan mendokumentasikan segala hal yang terkait dengan kondisi keseharian dan moment moment tertentu bisa tertangkap dengan utuh dan bahkan mereka bisa mendapatkan objek langka dan eksotis seperti kehidupan orangutan dialam.
Program fotografi yang melibatkan komunitas ini merupakan pendekatan antropologi dimana substansi dari cerita dan dokumentasi berasal dari ethnik atau kelompok kelompok masyarakat, di beberapa wilayah jantung borneo ethnik group yang dominan adalah ethnik Dayak (Iban, Kayan, Taman, Tamambaloh dll) dengan pola penghidupan sebagai masyarakat peladang dan peramu, sedangkan komunitas melayu lebih banyak hidup diwilayah perairan darat (sungai dan Danau) .
Pembelajaran fotographi ini juga bermaksud untuk membantu masyarakat mendokumentasikan persoalan, potensi dan kondisi mereka , hasil hasil foto diseleksi dan bisa dipergunakan sebagai pelengkap usulan perencanaan pembangunan didesa dan melengkapi cerita atau informasi dalam proposal pembangunan.
Proses seleksi dan pendampingan lanjutan
Pelatihan pengenalan kamera hanya bagian awal dari proses fotografi masyarakat, tindaklanjut kegiatan ini adalah melakukan pendampingan dan seleksi foto foto yang memenuhi kriteria dan bersifat informatif. setiap tiga bulan masyarakat berkumpul dan membahas hasil foto yang telah dipilih. Dari setiap proses pertemuan mereka selalu sharing tentang bagaimana pengalaman dan pembelajaran yang didapat, banyak kejadian luarbiasa dan menarik bagaikan cerita novel cinta tak berujunglah hehehehehe...
Setelah memasuki satu tahun mereka melakukan pameran foto dan dilakukan dengan gaya masyarakat, misalnya pada saat pesta panen, festifal budaya ditingkat kampung dan kecamatan, puncak pameran ini dilakukan dikota kabupaten dan mengundang semua pihak..
Bagaimana foto foto tersebut bercerita?
Tidak hanya sekedar foto, foto foto yang dihasilkan selalu memuat keterangan singkat (deskripsi foto) dan dirajut menjadi rangkaian cerita yang menarik. karya luar biasa ini kemudian dibukukan dan dipublikasikan, cerita keindahan Negeri tercinta dengan keragaman budaya dan kekayaan alam berlimpah akan abadi dan dikenang sepanjang masa,,,,
Dusun Lubuk Bandung merupakan salah satu dusun terpencil di desa Sui Ajung Kecamatan Batang Lupar diwilayah utara Kabupaten Kapuas Hulu, Kampung yang dihuni oleh komunitas Iban ini terletak dipinggir sungai Labian _ Leboyan yang menghubungkan Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman nasional Betung Kerihun.
Siapa mengira kita masih menemukan komunitas yang tak pernah menikmati kemerdekaan di Republik ini. sudah 68 tahun kemerdekaan RI seperti tak berbekas diwilayah ini. Jalan setapak dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki dan sepeda motor.
Setelah mengendarai motor sekitar 1 jam perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu menyusuri sungai Labian. disaat kondisi air normal tidak terlalu repot menggunakan perahu kecil (jalor) namun jangan coba coba saat air sedang pasang dan sehabis hujan.. arus sungai lumayan deras dan bisa menghanyutkan perahu.
Perjalanan kali ini bersama pak Yoseph Undja dan bro Agus efensius, menjajaki informasi dan tinggal untuk beberapa lama bersama komunitas menyelamatkan kawasan hutan dan sungai dan menggali potensi ekonomi untuk sumber penghidupan mereka kedepan.
Masyarakat Iban di Lubuk Bandung merupakan tipe masyarakat peladang yang sangat tergantung dari hutan dan sumberdaya alam lainnya, perladangan gilir balik selain menghasilkan padi dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Kebutuhan protein mereka dapatkan dari ikan yang ditangkap dengan menggunakan pancing, jala dan pukat di sungai Labian dan daging didapatkan dari berburu binatang hutan seperti babi hutan, rusa dan kijang. Hal yang menarik dari kebiasaan dan kepercayaan mereka adalah orangutan merupakan binatang yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh.
Jarak dan medan yang jauh sirna saat bertemu dengan kepala desa dan berbicang bincang dengan mereka dipinggir kampung ditepi sungai, berbagai hal mengalir dalam pembicaraan kami mengenai bagaimana fasilitas pendidikan, kesehatan dan harapan harapan mereka kedepan. Hidup dengan kesederhanaan dan kemewahan sumberdaya alam membuat mereka sangat bahagia dan bangga dengan apa yang telah mereka miliki, walaupun sesekali mereka masih berharap bisa menikmati kue pembangunan seperti masyarakat lainnya diluar sana.
Dalam perjalanan ke kampung Lubuk Bandung kita bisa menikmati suara suara burung yang langka seperti melihat burung enggang gading(rhinoplax vigil), melewati hutan karet bisa menemukan berbagai macam jenis jamur dan angrek hutan yang eksotis...wonderfull suasana laboratorium alam tropis dengan segudang pengetahuan dan keanekeragaman hayati mengundangku mengintip lensa kamera pocket yang selalu dibawa kemana mana.
Kisah ini tak berakhir karena perjalanan akan selalu dilanjutkan kesini , catatan kecil perjalanan hari itu ditutup dengan kesepakatan untuk bersama sama belajar dan bekerjasama dalam mengelalo sumberdaya alam yang dimiliki.
Siapa mengira kita masih menemukan komunitas yang tak pernah menikmati kemerdekaan di Republik ini. sudah 68 tahun kemerdekaan RI seperti tak berbekas diwilayah ini. Jalan setapak dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki dan sepeda motor.
Setelah mengendarai motor sekitar 1 jam perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu menyusuri sungai Labian. disaat kondisi air normal tidak terlalu repot menggunakan perahu kecil (jalor) namun jangan coba coba saat air sedang pasang dan sehabis hujan.. arus sungai lumayan deras dan bisa menghanyutkan perahu.
Perjalanan kali ini bersama pak Yoseph Undja dan bro Agus efensius, menjajaki informasi dan tinggal untuk beberapa lama bersama komunitas menyelamatkan kawasan hutan dan sungai dan menggali potensi ekonomi untuk sumber penghidupan mereka kedepan.
Masyarakat Iban di Lubuk Bandung merupakan tipe masyarakat peladang yang sangat tergantung dari hutan dan sumberdaya alam lainnya, perladangan gilir balik selain menghasilkan padi dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Kebutuhan protein mereka dapatkan dari ikan yang ditangkap dengan menggunakan pancing, jala dan pukat di sungai Labian dan daging didapatkan dari berburu binatang hutan seperti babi hutan, rusa dan kijang. Hal yang menarik dari kebiasaan dan kepercayaan mereka adalah orangutan merupakan binatang yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh.
Jarak dan medan yang jauh sirna saat bertemu dengan kepala desa dan berbicang bincang dengan mereka dipinggir kampung ditepi sungai, berbagai hal mengalir dalam pembicaraan kami mengenai bagaimana fasilitas pendidikan, kesehatan dan harapan harapan mereka kedepan. Hidup dengan kesederhanaan dan kemewahan sumberdaya alam membuat mereka sangat bahagia dan bangga dengan apa yang telah mereka miliki, walaupun sesekali mereka masih berharap bisa menikmati kue pembangunan seperti masyarakat lainnya diluar sana.
| Menyusuri Sui Labian |
| Jamur |
| Anak anak juga terampil berperahu |
Bahan anyaman diperoleh dari hutan dan disekitar rumah mereka , jenis bahan dari bambu, bemban atau berbagai jenis rotan. Pemilihan bahan baku berdasarkan jenis anyaman yang akan dibuat. Untuk keperluan jangka panjang biasanya mereka memilih bahan rotan karena lebih tahan lama dan bisa dipakai diluar rumah seperti untuk membawa kayu api, mengangkut padi dan sebagainya.
Motif anyaman sangat beragam dan mengandung makna tertentu, kedekatan bentuk motif dengan nuansa alamnya sangat kental. Hal ini dikarenakan karena interaksi kehidupan mereka dengan alam sangat dekat, hutan merupakan bagian yang menyediakan kebutuhan mereka.
Perkebunan karet merupakan salah
satu sumber ekonomi dominan yang telah dikembangkan oleh masyarakat secara
intensif, skala kebun karet berkisar 2 – 5 ha yang dikelola oleh masing masing
keluarga tani. Pelatihan sistem pengawasan internal (ICS) dilaksanakan pada
tanggal 17 – 18 April 2013 di Desa Ukit Ukit Kec. Batang Lupar kab. Kapuas
Hulu. Pelatihan ini melibatkan 30 petani karet dan bertujuan untuk membangun
sistem pengawasan kelompok dalam menerapkan standart mutu ditingkat kelompok.
Desa Labian merupakan salah satu desa yang berada di kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia di bagian utara Pulau Borneo, secara geografis hanya berjarak 50 km dari Lubok Antu, Lubok Antu merupakan salah satu sub distrik negara tetangga yang sering dikunjungi terutama pada setiap hari minggu dan pasar bagi petani petani di perbatasan untuk menjual hasil buminya ke Malaysia. Selain itu kawasan ini berada dalam Heart of Borneo dan memiliki nilai penting bagi perekonomian dan lingkungan.
Upaya pemberdayaan petani melalui
peningkatan kapasitas yang telah dilakukan telah mendorong pertambahan luasan
dan skala produksi karet di wilayah tersebut. Penanaman yang dilakukan lima
tahun terakhir telah dirasakan dan dinikmati terutama untuk jenis karet hybrid
dan saat ini produksi semakin meningkat, demikian menurut Yosef Unja salah satu
petani di Desa Labian.
Namun pada sisi lain petani masih
dihadapkan dengan menurunnya harga karet dan terjadinya fluktuasi harga yang
susah diprediksi. Persoalan lain adalah ternyata rantai perdagangan karet dan
proses perdagangan karet masih dikuasai oleh pelaku pasar yang tidak fair
(jujur) dan penentuan harga tidak melibatkan petani.
Mengapa perlu peningkatan mutu?
Kualitas karet ditentukan oleh
tekhnik produksi dan perlakuan pasca panen, kualitas yang baik memiliki harga
beli yang tinggi. Pengetahuan tentang Standart mutu ditingkat petani masih
rendah dan membingungkan, seperti contoh bahwa nyaris tidak ada indikator dan
perbedaan harga yang signifikant antara kondisi karet yang diproduksi.
Alasan utama yang dikemukakan
oleh pembeli (lokal dan pabrik) adalah
kualitas karet masih rendah dan produksinya masih terbatas serta ongkos
transportasi dari desa ke pabrik mahal sekali. Upaya upaya yang akan dilakukan
adalah meningkatkan mutu karet sesuai dengan permintaan pasar dan membangun
sistem pemasaran yang mampu melakukan negosiasi dengan pihak pembeli.
Internal controlling system (ICS)
merupakan sebuah pendekatan penjaminan mutu yang melibatkan semua petani didalam
sebuah kelompok, terdiri dari proses yang dibangun berdasarkan prinsip prinsip
transparansi dan kejujuran.
Prinsip dasar dari pengembangan ICS ini adalah untuk memfasilitasi kelompok
petani kecil menghasilkan produk berkualitas sesuai standar dan akhirnya bisa
mendapatkan penjaminan (sertifikasi) baik dari lembaga sertifikasi pihak ketiga
maupun komunitas.
syarat dari sertifikasi kelompok
petani kecil adalah unit usahatani umumnya dikelola oleh tenaga kerja keluarga,
pendapatan usahatani tidak cukup untuk membayar biaya sertifikasi, keseragaman
anggota kelompok petani baik lokasi geografis, sistem produksi, ukuran
kepemilikan lahan dan sistem pemasaran. Biasanya petani skala menengah juga
bisa menjadi anggota kelompok dengan persetujuan kelompok dan diinspeksi oleh
lembaga sertifikasi organik.
Dalam mengembangkan ICS, petani
harus terbiasa dalam kerja organisasi dan mencatat atau mendokumentasikan semua
kegiatan terkait usaha taninya, mulai dari proses produksi sampai pasca panen.
Selain berorganisasi dan mencatat, petani juga harus menyepakati dan memenuhi
standar mutu yang telah disusun bersama serta bersedia menerima sanksi bila
terjadi ketidaksesuaian dengan standar tersebut.
Pelatihan ICS ini merupakan
langkah pengorganisasian petani untuk meningkatkan akses pasar dan meningkatkan
posisi tawar petani dari situasi perdagangan karet baik pada tingkat lokal
maupun nasional. Proses untuk mengembangkan standart mutu dan kelembagaan ICS
dibangun bersama dengan kelompok tani yang selama ini memiliki produk dan
melibatkan juga pelaku pelaku pasar ditingkat desa.
Bermain musik dianggap hal biasa dalam keseharian kita, musik merupakan bagian dari kehidupan manusia, seni musik membuat kita bisa hanyut dalam irama dan kedalaman seninya. Kali ini saya akan bercerita tentang alat musik yang terbuat dari bambu dari masyarakat Krayan di Pedalaman Kalimantan Timur, saya tidak ingat jenis alatnya, namun yang diajarkan oleh Pak Elias (seniman musik Krayan) adalah alat musik petik dan tabuh.
Dalam kategori modern seperti kelompok perkusi kami bermain musik bersama, sol mi sa si istilah temanku dihasilkan dari bilah bilah bambu yang diolah menurut fungsinya, untuk jenis bambu besar lebih banyak menghasilkan suara bass dan jenis bambu kecil lebih dominan sebagai melodi dan rythem..Yang membuat alat musik ini bisa dinikmati adalah perpaduan tetabuhan dengan ketukan yang beragam...perbedaan ketukan dan kebebasan ekspresi ternyata menghasilkan keindahan.
Dalam kategori modern seperti kelompok perkusi kami bermain musik bersama, sol mi sa si istilah temanku dihasilkan dari bilah bilah bambu yang diolah menurut fungsinya, untuk jenis bambu besar lebih banyak menghasilkan suara bass dan jenis bambu kecil lebih dominan sebagai melodi dan rythem..Yang membuat alat musik ini bisa dinikmati adalah perpaduan tetabuhan dengan ketukan yang beragam...perbedaan ketukan dan kebebasan ekspresi ternyata menghasilkan keindahan.
Memasuki bulan juni disetiap tahun masyarakat Iban, Embaloh dan Kantuk menyambut pesta Gawai /Gawa', pesta ini merupakan tradisi turun temurun sebagai ucapan syukur atas berkat yang telah diterima sepanjang tahun. Bila ditelisik dari maknanya prosesi ini juga banyak ditemukan di masyarakat petani di Nusantara ini, syukur atas panen dan rejeki yang diterima dari Yang Maha Kuasa mereka nyatakan dalam rasa syukur dan berbagi dengan sesama. Nilai kearifan yang terkandung dalam acara ini membuat kita mengerti bahwa gawai bukanlah budaya pemborosan atau ajang mabuk tuak.
Kantung Semar yang dikenal di kalangan masyarakat
Kalimantan Barat dengan sebutan Kantung Kera adalah tumbuhan unik yang
merupakan bagian dari fenomena satu hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman
hayati. Taman Nasional Betung Kerihun yang merupakan bagian penting dari hutan
tropis dunia menjadi salah satu tempat hidup berbagai species tumbuhan
ini. Sebagian besar ditemukan di daerah perbukitan/pegunungan dengan ketinggian
diatas 1000 m dpl. Hal tersebut dikarenakan habitat tumbuhan ini adalah
tapak-tapak yang miskin unsur hara.
Dari bentuknya yang unik dan jenis kantungnya yang sangat
bervariasi dengan ukuran dan warna yang beragam pula, sering mengundang tanda
tanya bagi yang menyaksikannya. Jika diteliti lebih jauh tidak hanya fisiologisnya yang menarik namun cara
hidupnyapun tergolong unik. Cara tumbuhan ini mendapatkan unsur hada adalah
dengan memerangkap berbagai jenis serangga
dengan kantongnya untuk kemudian dicerna hingga mengeluarkan nitrogen
dan unsur hara lainnya.
Bulir bulir padi yang telah dipanen dari ladang ladang telah siap disimpan untuk cadangan pangan ditahun berikutnya, sebelum disimpan padi padi tersebut dibersihkan dengan cara ditampi dan dijemur dipelataran rumah betang(panjang) dengan alas tikar rotan yang diproduksi sendiri. suasana ini didokumentasikan dari rumah betang suku Iban di Dusun Tikalong kec. Batang Lupar kabupaten Kapuas hulu.
Umumnya aktivitas pasca produksi dilakukan oleh kaum perempuan , sesekali juga dibantu oleh kaum laki laki dan anak anak.
Umumnya aktivitas pasca produksi dilakukan oleh kaum perempuan , sesekali juga dibantu oleh kaum laki laki dan anak anak.
Sekilas hanya guratan berwarna dan ornament makro dari kulit lelaki lelaki kekar, bila dilihat dari jarak yang cukup dekat ternyata tatoo tersebut memiliki struktur dan menggambarkan simbol dari cerita pengembaraan lelaki Iban . Simbol utama adalah motif bunga terong yang terletak dibahu kiri dan kanan , motif ini menggambarkan ciri khas suku Iban . Setiap tatoo dibuat untuk mengenang peristiwa dan tempat pengembaraan mereka. Kebiasaan berkelana dan merantau lelaki Iban memberi kebanggan tersendiri.
Pria tua ini merupakan salah satu generasi pewaris tatoo Iban dan mendiami rumah panjang dengan tradisi kebudayaannya.
Pria tua ini merupakan salah satu generasi pewaris tatoo Iban dan mendiami rumah panjang dengan tradisi kebudayaannya.
Membentuk koloni baru dengan bentuk setengah lingkaran, inilah cikal sarang lebah Aphis dorsata yang biasa disebut lebah madu hutan. Lebah lebah ini akan datang ketika musim bunga telah mekar dan memilih lokasi sarang pada jenis jenis kayu tertentu yang memiliki dahan yang kokoh dan aman.
Masa pembentukan sarang diawali dengan membentuk sarang muda dan berkembangbiak dalam koloni.
Jenis sarang yang berada pada dahan pohon tersebut biasanya disebut lalau , lalau terletak dipohon pohon besar dan ukuran sarangnya jauh lebih besar dibandingkan type lainnya yakni Tikung dan Repak. Sarang berada di dahan-dahan pohon, biasanya dalam satu pohon bisa terdiri dari sekitar 50 koloni. Pohon Lalau kalau dirawat biasanya setiap tahun akan dihuni lagi oleh koloni lebah. Kepemilikan sarang berdasarkan kepemilikan pohon. Pohon Lalau juga dilindungi oleh hukum ada di Masyarakat yang mendiami kawasan Taman Nasional Danau Sentarum
Memang proses pembuatannya tanpa campur tangan manusia dan bersifat alami namun masyarakat yang menjaga dan merawat pohon dimana lebah lebah tersebut bersarang merupakan kontribusi yang dihargai oleh warga setempat, karena itu pohon pohon yang menjadi tempat bersarang selalu terjaga dan lestari.
Jumlah sarang akan menentukan jumlah produksi madu hutan yang akan diperoleh setiap masa panen, kapasitas produksi berkisar antara 5 - 20 kg per sarang dan masa panen biasanya dilakukan saat kondisi sarang sudh matang, pengetahuan menilai sarang yang sudah siap panen ini juga menjadi khasanah pengetahuan yang luarbiasa di masyarakat adat.
Masa pembentukan sarang diawali dengan membentuk sarang muda dan berkembangbiak dalam koloni.
Jenis sarang yang berada pada dahan pohon tersebut biasanya disebut lalau , lalau terletak dipohon pohon besar dan ukuran sarangnya jauh lebih besar dibandingkan type lainnya yakni Tikung dan Repak. Sarang berada di dahan-dahan pohon, biasanya dalam satu pohon bisa terdiri dari sekitar 50 koloni. Pohon Lalau kalau dirawat biasanya setiap tahun akan dihuni lagi oleh koloni lebah. Kepemilikan sarang berdasarkan kepemilikan pohon. Pohon Lalau juga dilindungi oleh hukum ada di Masyarakat yang mendiami kawasan Taman Nasional Danau Sentarum
Memang proses pembuatannya tanpa campur tangan manusia dan bersifat alami namun masyarakat yang menjaga dan merawat pohon dimana lebah lebah tersebut bersarang merupakan kontribusi yang dihargai oleh warga setempat, karena itu pohon pohon yang menjadi tempat bersarang selalu terjaga dan lestari.
Jumlah sarang akan menentukan jumlah produksi madu hutan yang akan diperoleh setiap masa panen, kapasitas produksi berkisar antara 5 - 20 kg per sarang dan masa panen biasanya dilakukan saat kondisi sarang sudh matang, pengetahuan menilai sarang yang sudah siap panen ini juga menjadi khasanah pengetahuan yang luarbiasa di masyarakat adat.
Segala sesuatu merupakan milik DIA...memohon berkat dari Yang Maha kuasa dilakukan sebelum memulai segala sesuatu termasuk budaya pertanian. Acara ini dilakukan oleh masyarakat Dayak Iban di Dusun Tikalong Kec. Batang Lupar Kab. Kapuas Hulu. Upacara berdoa untuk mendapatkan berkat ini dipimpin langsung oleh Tuai Rumah (kepala suku) , berbagai jenis sesajen dipersembahkan seperti nasi, cucur, ayam dan beberapa jenis dedaunan dan buah buahan hutan. Imam yang bertindak memimpin acara ini akan mempersembahkan simbol simbol tersebut dalam doa lisan.
Kusujud dikaki salibnya.....sampai ku dapat ampun dosa...lagu ini sangat pas ketika nuansa religi dihadirkan lewat kokohnya bangunan gereja di kaki bukit Lanjak, Desa Lanjak Kec. Batang Lupar. Dibangun dengan arsitek lokal dengan gaya perpaduan antara timur dan Barat.
Sekilas memang berbentuk rumah namun yang paling unik adalah rumah ini bisa berlayar mengarungi sungai dan danau danau di pedalaman Kalimantan barat, Kapal ini disebut kapal Bandong dan digunakan sebagai alat transportasi bagi masyarakat terutama didaerah daerah yang masih menggunakan transportasi air. Daya angkut kapal ini bervariasi dari 50 ton hingga 500 ton, selain sebagai alat transportasi Kapal Bandong juga berfungsi sebagai toko bergerak.
Beratnya beban kaum perempuan dalam hidup sehari hari , terutama kelompok perempuan didesa. Selain menjaga kelangsungan hidup keluarga mereka juga masih harus dibebani dengan kerja berat mencari nafkah. Semua organ bergerak untuk memenuhi hidup demi kasih sayang kepada suami dan anak anak. Dokument ini saya rekam dari desa di kawasan trans kalimantan pada tahun 2012.
Menghitung beban mereka bagaikan merapikan benang kusut dan ketidak adilan yang dialami sering disebut sebagai kodrat. Sungguh tragis bahkan hingga hari ini dan detik ini banyak perempuan yang pasrah dengan kondisi yang dialami.
Peringatan International Women’s Day ke-101 pada 8 Maret 2012 dicanangkan PBB dalam perayaan Women’s Day tahun ini adalah Empower Women – End Hunger and Poverty;
Menghitung beban mereka bagaikan merapikan benang kusut dan ketidak adilan yang dialami sering disebut sebagai kodrat. Sungguh tragis bahkan hingga hari ini dan detik ini banyak perempuan yang pasrah dengan kondisi yang dialami.
Peringatan International Women’s Day ke-101 pada 8 Maret 2012 dicanangkan PBB dalam perayaan Women’s Day tahun ini adalah Empower Women – End Hunger and Poverty;
Tema ini sangat relevan dengan kondisi perempuan perdesaan dan pada saat forum forum internasional membahas nasib mereka harapannya tekanan dan beban hidup mereka juga berkurang. pada saat jargon politik mensyaratkan komposisi perempuan dalam parlemen pun nasib mereka tak jauh berubah.
Tadi malam cendekiawan membahas isu kenaikan BBM , tak satupun dari pembicara dan pengamat ekonomi yang menyinggung beban perempuan ketika BBM dan persoalan politik dinegeri ini menjadi masalah serius.
Perspektif Gender adalah keberpihakan bukan lips service dan quota, keberpihakan ini harus diaktualisasi dalam pikiran dan tindakan.
Tadi malam cendekiawan membahas isu kenaikan BBM , tak satupun dari pembicara dan pengamat ekonomi yang menyinggung beban perempuan ketika BBM dan persoalan politik dinegeri ini menjadi masalah serius.
Perspektif Gender adalah keberpihakan bukan lips service dan quota, keberpihakan ini harus diaktualisasi dalam pikiran dan tindakan.
Bukan hal yang aneh jika pindah rumah dengan memindahkan semua peralatan dan rumahnya di kalangan masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum. Lanting (rumah terapung) merupakan salah satu bentuk rumah masyarakat nelayan yang hidup ditengah danau dan dipinggir sungai sungai besar di Kalimantan Barat.
Jadwal pindah lanting ini menyesuaikan dengan musim panen ikan dan kegiatan nelayan, lanting lanting dipindahkan ke danau danau yang akan selalu tergenang pada musim kemarau. Rumah lanting terbuat dari kayu, kondisi pondasi selalu terapung, jenis kayu yang dipakai sebagai pelampung adalah kayu kayu yang tidak tenggelam seperti jenis kawi, tengakawang (shorea sp) dan lain lain. Kegunaan lanting selain untuk rumah tinggal juga dipergunakan untuk mengolah ikan hasil tangkapan mereka dan menyimpannya, bahkan bagi para pengunjung atau orang luar bisa menginap disini dan menikmati kehidupan diatas air. Saat gelombang datang kita seakan berada di ayunan dan menikmati kehidupan yang berbeda.
Sebuah kehidupan yang asri dan mengikuti irama alam, lanting lanting ini akan berkelana dan selalu berpindah menurut tradisi nelayan..namun kehancuran habitat dan kondisi hidrologi akibat pembukaan hutan dan kawasan penyangga oleh perkebunan kelapa sawit di sekitar Danau Sentarum dipastikan kondisi ini akan hilang tergerus dan hanya menyisakan cerita belaka
Budaya menenun merupakan simbol kebudayaan yang dilakukan masyarakat, tenun memiliki nilai artistik tinggi dan membutuhkan keterampilan khusus. Kebiasaan menenun dilakukan oleh perempuan perempuan di Desa, tradisi tenun ini telah turun temurun dengan peralatan tradisional. Bahan kain tenun terdiri dari benang yang dibuat dari kapas, pewarna tenun diambil dari berbagai bahan alam seperti kulit kayu atau jenis jenis tanaman lainnya yang tumbuh dihutan tropis. Peralatan tenun terbuat dari kayu.
Produk tenun biasanya untuk baju, taplak meja dan selendang atau sal. Kain tenun akan dipakai saat upacara adat seperti pesta , menyambut tamu agung dan lain lain. Perempuan perempuan Iban memiliki keterampilan tinggi dalam memproduksi tenun. Berbagai motif tenun menggambarkan kisah dan simbol simbol kehidupan keseharian.
Produk tenun biasanya untuk baju, taplak meja dan selendang atau sal. Kain tenun akan dipakai saat upacara adat seperti pesta , menyambut tamu agung dan lain lain. Perempuan perempuan Iban memiliki keterampilan tinggi dalam memproduksi tenun. Berbagai motif tenun menggambarkan kisah dan simbol simbol kehidupan keseharian.



