![]() |
| Radakng Sahapm |
Radakng (Long House) merupakan sebutan untuk rumah asli masyarakat adat Dayak Kanayatn, ciri khas yang menonjol dari Radakng ini adalah struktur bangunan terdiri dari beberapa bagian dan menyatu antara satu rumah dengan rumah lainnya. Maka tidak jarang sering disebut juga sebagai rumah panjang/ long house, Betang. Ciri lain dari bangunan ini adalah memiliki tiang tiang rumah yang tinggi sekitar 3 - 5 meter dari tanah dan memiliki bagian lorong luar dan dalam yang tersambung. Seperti yang kita lihat difoto ini adalah bagian depan dan biasanya disebut pante. Pante dipergunakan untuk berbagai aktivitas warga seperti untuk santai, untuk menjemur padi dan tempat upacara adat dalam skala besar.
Panjang rumah Radakng di Sahapm hampir 300 meter dan terdiri dari 42 pintu yang dihuni oleh 50 an kepala keluarga ...Radakng Saham merupakan situs budaya masyarakat Dayak Kanayatn, merupakan rumah terakhir yang masih tersisa dan masih dihuni oleh masyarakat disana. Konon memang banyak dijumpai Radakng ini disetiap kampung dan pemukiman orang Dayak, Propaganda Pemerintah tentang bahaya tinggal dirumah radakng membuat masyarakat meninggalkan radakng. dibalik propaganda ini sebenarnya tersirat makna ketakutan Pemerintah akan kelompok kelompok militan yang berserikat , mungkin ini sekedar asumsi namun bisa menjadi kebenaran. Pada tahun 1982 merupakan moment bersejarah di Kampungku , kedatangan Menteri Lingkungan Hidup Bapak Prof. Emil Salim dan Menteri Peranan Wanita Ibu Lasiah Sutanto menjadi penyelamat Radakng Kanayatn. Beliau menetapkan sejak kedatangannya kampungku menjadi cagar budaya dan harus dilestarikan. Sejak kedatangan sang penyelamat maka isu dan upaya pembongkaran radakng berakhir ,hingga hari ini masih dipelihara dan dihuni oleh masyarakat disana.
Perjalanan ke Radakng Sahapm bisa ditempuh dengan perjalanan darat dengan kendaraan bus atau mobil. Jarak dari Pontianak sekitar 149 km , dari administrasi Radakng Sahapm berada di Desa Sahapm, Kec. Sengah Temila Kab. Landak.
![]() |
| Menampi padi |
Seperti kebiasaan umum dikalangan masyarakat Peladang, menampi atau membersihkan padi/gabah dikerjakan oleh perempuan perempuan menggunakan bido atau alat penampi yang dianyam dari bahan rotan. Rotan rotan ini juga dihasilkan oleh hutan disekita Radakng atau rumah panjang. Hampir semua pekerjaan berat dikerjakan secara bersama sama. Semangat gotong royong ini mereka pelihara dan menjadi nuansa kehidupan masyarakat yang tinggal disana, bagi mereka menjadi keharusan atau kewajiban untuk saling membantu, dari philosofi tinggal bersama dalam satu rumah panjang adalah semangat senasib sepenanggungan, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Nilai nilai inilah yang konon menjadi ajaran Bung Hatta ketika membangun karakter kebangsaan Indonesia Merdeka.
Adat dikandung badan dan melekat dalam keseluruhan proses kehidupan masyarakat di Radakng, prosesi diatur mengikuti kalender musim dan dipimpin langsung oleh ketua ketua adat di kampung. Pesan adat selalu bermakna dalam mengingatkan petuah petuah hidup bagi Talino (manusia) , Adil Ka' Talino (Bersikap adil untuk manusia) , Bacuramin Ka' Saruga(Bercermin dengan kehidupan Surgawi), Basengat Ka' Jubata(Menggantungkan hidup pada Ilahi).
Suasana santai ibu ibu di siang hari, duduk dibalai balai dibagian dalam lorong radakng atau disebut Pene, selain dipakai sebagai ruang publik pene ini juga disediakan bagi para tamu yang datang untuk bersantai. Ingin merasakan sensasi yang luar biasa?tamu tamu bisa tidur di pene dan merasakan keramahan penghuni penghuni radakng...bukan mistis lho.
![]() |
| bentuk tangga |
![]() | |
| by Tamin/Meliau- wwf Indonesia |
CLICK! (Communication Learning towards Innovative Change and Knowledge)berupaya menjembatani komunikasi dan aspirasi masyarakat melalui fotografi serta mendorong munculnya perubahan-perubahan positif yang bermanfaat bagi masyarakat dan alam sekitarnya. Tiap partisipan dipinjamkan sebuah kamera foto dan kamera video selama periode satu tahun untuk memotret kondisi alam serta kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekitar mereka.
Sebelum mulai berburu gambar, para peserta mendapatkan pelatihan singkat mengenai teknis penggunaan kamera dan ilmu dasar fotografi.
Kesempatan mendokumentasikan segala hal yang terkait dengan kondisi keseharian dan moment moment tertentu bisa tertangkap dengan utuh dan bahkan mereka bisa mendapatkan objek langka dan eksotis seperti kehidupan orangutan dialam.
Program fotografi yang melibatkan komunitas ini merupakan pendekatan antropologi dimana substansi dari cerita dan dokumentasi berasal dari ethnik atau kelompok kelompok masyarakat, di beberapa wilayah jantung borneo ethnik group yang dominan adalah ethnik Dayak (Iban, Kayan, Taman, Tamambaloh dll) dengan pola penghidupan sebagai masyarakat peladang dan peramu, sedangkan komunitas melayu lebih banyak hidup diwilayah perairan darat (sungai dan Danau) .
Pembelajaran fotographi ini juga bermaksud untuk membantu masyarakat mendokumentasikan persoalan, potensi dan kondisi mereka , hasil hasil foto diseleksi dan bisa dipergunakan sebagai pelengkap usulan perencanaan pembangunan didesa dan melengkapi cerita atau informasi dalam proposal pembangunan.
Proses seleksi dan pendampingan lanjutan
Pelatihan pengenalan kamera hanya bagian awal dari proses fotografi masyarakat, tindaklanjut kegiatan ini adalah melakukan pendampingan dan seleksi foto foto yang memenuhi kriteria dan bersifat informatif. setiap tiga bulan masyarakat berkumpul dan membahas hasil foto yang telah dipilih. Dari setiap proses pertemuan mereka selalu sharing tentang bagaimana pengalaman dan pembelajaran yang didapat, banyak kejadian luarbiasa dan menarik bagaikan cerita novel cinta tak berujunglah hehehehehe...
Setelah memasuki satu tahun mereka melakukan pameran foto dan dilakukan dengan gaya masyarakat, misalnya pada saat pesta panen, festifal budaya ditingkat kampung dan kecamatan, puncak pameran ini dilakukan dikota kabupaten dan mengundang semua pihak..
Bagaimana foto foto tersebut bercerita?
Tidak hanya sekedar foto, foto foto yang dihasilkan selalu memuat keterangan singkat (deskripsi foto) dan dirajut menjadi rangkaian cerita yang menarik. karya luar biasa ini kemudian dibukukan dan dipublikasikan, cerita keindahan Negeri tercinta dengan keragaman budaya dan kekayaan alam berlimpah akan abadi dan dikenang sepanjang masa,,,,
Perjalanan menuju sui Pelaik menempuh waktu sekitar 3 jam dengan speed boat melewati taman nasional Danau Sentarum dan menyusur sungai Leboyan , salah satu dusun yang masih terioslir dan hanya dapat ditempuh dengan perjalanan menggunakan perahu atau speed boat. sejarah kampung pelaik ini berawal dari pengembaraan komunitas iban di sepanjang benua Lanjak dan Badau, menurut beberapa informasi riset karakter Iban lebih cenderung nomaden dan tersebar diberbagai kawasan dataran tinggi. Seiring perkembangan waktu komunitas ini berpindah dari perbukitan peninjau kearah danau sentarum. mungkin ini tempat terakhir dan menetap sampai generasi nanti demikian menurut Pak Burung kepala kampung Sui Pelaik.
Keseharian mata pencaharian masyarakat Iban di Sui Pelaik adalah berladang, menyadap karet dan meramu berbagai hasil hutan seperti rotan, tanaman obat, buah buahan hutan dan berburu. Pada musim tertentu mereka juga menjadi nelayan dengan menggunakan alat tangkap seperti bubu dan pengilar. Pengilar dibuat dari rotan berbentuk kubus dan dipasang dipinggir atau dasar sungai untuk menangkap ikan ikan berukuran besar. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan eksotis danau sentarum dan berbagai jenis binatang seperti burung, bekantan, bahkan bila beruntung kita bisa bertemu dengan orangutan.
mari kita kenali beberapa diantaranya hehehehehe
Bekantan (Nasalis larvatus)
adalah satwa yang tergolong ke daIam ordo Primata, Famili Cercophithe Cidae,
Subfamili Coleginae. Satwa ini hidup endemik di Taman nasional Danau Sentarum
dan hutan rawa basah Kalimantan. Bekantan biasanya disebut orang lokal Kera Belanda atau rancong,
karena memiliki hidung yang menonjol agak lebar menggantung kedepan seperti
hidung orang belanda. dalam bahasa inggris biasa disebut Proboscis
Monkey. Selain mempunyai hidung yang panjang, Bekantan juga mempunyai morfologi
yang khas yaitu mempunyai selaput diantara jari kaki dan tangan serta sistem
pencenaan yang sama dengan rusa, jerapah. sapi, domba. dan kambing yang
disebut Rominansia, dan juga mempunyai sistem sosial yang unik dihabitatnya.
Habitat bekantan sangat
terbatas pada tipe hutan rawa gambut, bakau serta sangat tergantung pada
sungai, walaupun sebagian kecil ada yang hidup di hutan Dipterocarpaceae
dan hutan karangas namun masih berada disekitar sungai. Tipe hutan yang
disenangi bekantan adalah tipe Riverine Mangrove dengan sungai yang cukup
besar. Kebutuhan hutan ditepi sungai bagi bekantan adalah untuk tempat bermalam
dan untuk tempat berkomuikasi. Makanan yang dikonsumsi oleh bekantan terdiri
dari buah?buahan, bunga, jenis paku-pakuan, cendawan, larva insecta, dan
rayap. Sedangkan makanan yang paling disukai olehnya dan dijadikan sebagai
makanan utamanya adalah Gauna Motleyana dan Eugenia Spp. Jenis ini banyak
tersebar dipinggiran sungai hingga jauh kedarat. Bekantan memang pernilih
dalam pencarian makanan yang di sukai terutama buah dan daun muda pedada
(Sonneratia lanceolata) yang tumuh di hutan bakau sepanjang sungai dekat
pantai. Selain itu mereka juga mengkonsunasi pucuk-pucuk dari pohon bakau
tempat mereka beristirat dan bermain.
Menarik bukan? keberuntungan bertemu dengan kelompok besar bisa terjadi apabila kita tenang dan sabar. bila bertemu dengan kawanan ini jangan coba coba menunjuk mereka karena mereka kira telunjuk tangan kita adalah senapan dan membahayakan mereka. Cukup satu perintah dari sang ketua maka mereka akan lari dan menghindar.
| Ditengah Danau Luar |
Melewati danau luar yang menghubungkan Lanjak dengan aliran sui Leboyan merupakan trek yang menyenangkan, suasana danau yang tenang dengan dikelilingi oleh perbukitan membuat nuansa seperti berada pada titik kecil dari kebesaran ciptaan Ilahi..sungguh besar Kau Allahku...
| sarang lebah madu hutan |
madu hutan dari lebah Aphis dorsata merupakan kekayaan alam lainnya yang berada disana,..dengan kearifan lokal mereka mendapatkan madu hutan alami yang berkualitas tinggi dan dipanen setiap tahun.
Kekayaan alam dan kelimpahannya juga pada potensi ikan ikan disana, dari hasil panen ikan setiap hari menggunakan jala dan pukat diawetkan menjadi ikan asin yang enak. proses pembuatan ikan asin cukup sederhana, setelah ikan dibersihkan cukup direndam dalam tong yang telah diisi dengan garam dapur. Proses perendaman selama 1- 2 hari. setelah diangkat ikan ikan ini dijemur ditempat terbuka dan dialas dengan tikar atau bahan yang bersih,
pesonanya lain yang sangat eksoitis adalah angrek, tidak salah bila tawaran ini bagi para penggemar angrek hutan . keanekaragaman jenis anggrek di Sui Pelaik hampir 50 jenis, masyarakat menanam anggrek disekitar kampung dan mereka telah diajarkan oleh beberapa peneliti dari Cifor (center for international forestry research) .
Kawasan Danau Sentarum menyimpan pesona Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata)
yang tumbuh alami di hutan sepanjang aliran Sungai Kapuas.
| interior rumah panjang Iban |
Jenis anggrek alam di danau Sentarum yang telah
teridentifikasi oleh tim peneliti sebanyak 135 jenis, 50 jenis anggrek ada di Sui Pelaik . Masyarakat menjaga tanaman anggrek alami yang tumbuh parasit
di pohon. Setiap hari mereka selalu berkeliling di sepanjang aliran
sungai menggunakan sampan. Bila ada tanaman anggrek yang jatuh ke air,
akan diletakkan kembali ke pohon. Hal ini dilakukan untuk menjaga
kelestarian tanaman anggrek di hutan.
Pesona yang tak pernah berakhir dan menyimpan memori untuk kembali ke Sui Pelaik, menambah cerita untuk para sahabat dan anak anak dirumah dan menyebarkan informasi bagi dunia tentang kearifan mereka terhadap bumi.
Pesona yang tak pernah berakhir dan menyimpan memori untuk kembali ke Sui Pelaik, menambah cerita untuk para sahabat dan anak anak dirumah dan menyebarkan informasi bagi dunia tentang kearifan mereka terhadap bumi.
| Melepaskan bulir padi |
Saat panen merupakan moment terbaik dan selalu dinantikan oleh para peladang, harapan mereka dengan panenan berllimpah menjadi penawar lelah sepanjang tahun dan upah dari kerja keras mereka, Setelah padi dipetik dengan menggunakan ani ani dan dibawa kerumah.
foto ini diambil di rumah panjang dusun Tekalong Kec. Batang Lupar Kab Kapuas hulu, musim panen biasanya pada bulan februari dan mereka memisahkan bulir dari tangkai dengan menggunakan kaki (mengirik).
| memisahkan jerami dan bulir bulir |
Mereka Setia
Dikala Pemerintah kita doyan import pangan dan harga gabah jatuh , disaat petani selalu menjadi kelompok yang dirugikan apakah mereka berhenti menjadi Peladang? ternyata tidak, mereka tetap setia memproduksi pangan dan menanam lahan mereka dengan padi. Kesetiaan ini seperti didorong oleh perasaan bertanggungjawab untuk menjaga tradisi perladangannya.
Mereka selalu tertuduh sebagai pelaku perusak hutan karena menebang pohon? ternyata tidak karena mereka sudah melakukannya secara turun temurun dan skalanya sangat terbatas dengan periode siklus yang cukup panjang 5 - 10 tahun.
Bisa dibayangkan seandainya kegiatan perladangan ini berakhir dan hanya mengandalkan pola pengganti dengan pangan dari luar.
Dusun Lubuk Bandung merupakan salah satu dusun terpencil di desa Sui Ajung Kecamatan Batang Lupar diwilayah utara Kabupaten Kapuas Hulu, Kampung yang dihuni oleh komunitas Iban ini terletak dipinggir sungai Labian _ Leboyan yang menghubungkan Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman nasional Betung Kerihun.
Siapa mengira kita masih menemukan komunitas yang tak pernah menikmati kemerdekaan di Republik ini. sudah 68 tahun kemerdekaan RI seperti tak berbekas diwilayah ini. Jalan setapak dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki dan sepeda motor.
Setelah mengendarai motor sekitar 1 jam perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu menyusuri sungai Labian. disaat kondisi air normal tidak terlalu repot menggunakan perahu kecil (jalor) namun jangan coba coba saat air sedang pasang dan sehabis hujan.. arus sungai lumayan deras dan bisa menghanyutkan perahu.
Perjalanan kali ini bersama pak Yoseph Undja dan bro Agus efensius, menjajaki informasi dan tinggal untuk beberapa lama bersama komunitas menyelamatkan kawasan hutan dan sungai dan menggali potensi ekonomi untuk sumber penghidupan mereka kedepan.
Masyarakat Iban di Lubuk Bandung merupakan tipe masyarakat peladang yang sangat tergantung dari hutan dan sumberdaya alam lainnya, perladangan gilir balik selain menghasilkan padi dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Kebutuhan protein mereka dapatkan dari ikan yang ditangkap dengan menggunakan pancing, jala dan pukat di sungai Labian dan daging didapatkan dari berburu binatang hutan seperti babi hutan, rusa dan kijang. Hal yang menarik dari kebiasaan dan kepercayaan mereka adalah orangutan merupakan binatang yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh.
Jarak dan medan yang jauh sirna saat bertemu dengan kepala desa dan berbicang bincang dengan mereka dipinggir kampung ditepi sungai, berbagai hal mengalir dalam pembicaraan kami mengenai bagaimana fasilitas pendidikan, kesehatan dan harapan harapan mereka kedepan. Hidup dengan kesederhanaan dan kemewahan sumberdaya alam membuat mereka sangat bahagia dan bangga dengan apa yang telah mereka miliki, walaupun sesekali mereka masih berharap bisa menikmati kue pembangunan seperti masyarakat lainnya diluar sana.
Dalam perjalanan ke kampung Lubuk Bandung kita bisa menikmati suara suara burung yang langka seperti melihat burung enggang gading(rhinoplax vigil), melewati hutan karet bisa menemukan berbagai macam jenis jamur dan angrek hutan yang eksotis...wonderfull suasana laboratorium alam tropis dengan segudang pengetahuan dan keanekeragaman hayati mengundangku mengintip lensa kamera pocket yang selalu dibawa kemana mana.
Kisah ini tak berakhir karena perjalanan akan selalu dilanjutkan kesini , catatan kecil perjalanan hari itu ditutup dengan kesepakatan untuk bersama sama belajar dan bekerjasama dalam mengelalo sumberdaya alam yang dimiliki.
Siapa mengira kita masih menemukan komunitas yang tak pernah menikmati kemerdekaan di Republik ini. sudah 68 tahun kemerdekaan RI seperti tak berbekas diwilayah ini. Jalan setapak dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki dan sepeda motor.
Setelah mengendarai motor sekitar 1 jam perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu menyusuri sungai Labian. disaat kondisi air normal tidak terlalu repot menggunakan perahu kecil (jalor) namun jangan coba coba saat air sedang pasang dan sehabis hujan.. arus sungai lumayan deras dan bisa menghanyutkan perahu.
Perjalanan kali ini bersama pak Yoseph Undja dan bro Agus efensius, menjajaki informasi dan tinggal untuk beberapa lama bersama komunitas menyelamatkan kawasan hutan dan sungai dan menggali potensi ekonomi untuk sumber penghidupan mereka kedepan.
Masyarakat Iban di Lubuk Bandung merupakan tipe masyarakat peladang yang sangat tergantung dari hutan dan sumberdaya alam lainnya, perladangan gilir balik selain menghasilkan padi dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya. Kebutuhan protein mereka dapatkan dari ikan yang ditangkap dengan menggunakan pancing, jala dan pukat di sungai Labian dan daging didapatkan dari berburu binatang hutan seperti babi hutan, rusa dan kijang. Hal yang menarik dari kebiasaan dan kepercayaan mereka adalah orangutan merupakan binatang yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh.
Jarak dan medan yang jauh sirna saat bertemu dengan kepala desa dan berbicang bincang dengan mereka dipinggir kampung ditepi sungai, berbagai hal mengalir dalam pembicaraan kami mengenai bagaimana fasilitas pendidikan, kesehatan dan harapan harapan mereka kedepan. Hidup dengan kesederhanaan dan kemewahan sumberdaya alam membuat mereka sangat bahagia dan bangga dengan apa yang telah mereka miliki, walaupun sesekali mereka masih berharap bisa menikmati kue pembangunan seperti masyarakat lainnya diluar sana.
| Menyusuri Sui Labian |
| Jamur |
| Anak anak juga terampil berperahu |
Bahan anyaman diperoleh dari hutan dan disekitar rumah mereka , jenis bahan dari bambu, bemban atau berbagai jenis rotan. Pemilihan bahan baku berdasarkan jenis anyaman yang akan dibuat. Untuk keperluan jangka panjang biasanya mereka memilih bahan rotan karena lebih tahan lama dan bisa dipakai diluar rumah seperti untuk membawa kayu api, mengangkut padi dan sebagainya.
Motif anyaman sangat beragam dan mengandung makna tertentu, kedekatan bentuk motif dengan nuansa alamnya sangat kental. Hal ini dikarenakan karena interaksi kehidupan mereka dengan alam sangat dekat, hutan merupakan bagian yang menyediakan kebutuhan mereka.
Siapa yang menyangka bahwa peraan kunci menghijaukan bumi adalah kaum perempuan, bukti nyata ini ditemukan di komunitas perempuan Dayak Iban di dusun Tekalong, Desa Lanjak Deras Kec. Batang Lupar Kapuas Hulu di Kalimantan Barat. Kegiatan menyeleksi biji ini merupakan bagian dari tahapan kegiatan restorasi kawasan hutan lindung bukit Lanjak. selama dua tahun komunitas ini telah berhasil menanam areal sekitar 500 ha, sungguh fantastis...Kawasan Hutan Lindung Bukit Lanjak merupakan salah satu kawasan penting yang berada didalam kawasan koridor Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Selain memiliki fungsi lindung kawasan ini juga merupakan kawasan kelola masyarakat untuk peruntukan aktivitas perladangan, berkebun, berburu dan meramu hasil hutan. Apa yang dilakukan oleh kelompok perempuan di dusun tersebut sangat sederhana, mereka memilih jenis jenis biji yang akan ditanam untuk keperluan jangka panjang. Jenis biji yang terpilih seperti durian, buah buahan hutan dan beberapa jenis tanaman yang menghasilkan kayu seperti kayu ulin, meranti dan sebagainya.
Antusias ibu ibu ini sangat tinggi karena selain mereka memiliki kesempatan untuk mengelola program penanaman di Hutan Lindung Bukit Lanjak, mereka juga mendapat pinjaman dana produktif untuk pengembangan usaha kelompok perempuan. Jenis usaha produktif yang mereka kembangkan antara lain budidaya sayuran dan berbagai jenis rempah yang laku dijual dipasar lokal dan Malaysia,
Kelompok perempuan terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembibitan, kelompok ini melakukan pencatatan dan memberikan rekomendasi perbaikan dalam pengelolaan pembibitan, sebuah proses memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanggungjawab penuh terhadap program
Antusias ibu ibu ini sangat tinggi karena selain mereka memiliki kesempatan untuk mengelola program penanaman di Hutan Lindung Bukit Lanjak, mereka juga mendapat pinjaman dana produktif untuk pengembangan usaha kelompok perempuan. Jenis usaha produktif yang mereka kembangkan antara lain budidaya sayuran dan berbagai jenis rempah yang laku dijual dipasar lokal dan Malaysia,
Kelompok perempuan terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembibitan, kelompok ini melakukan pencatatan dan memberikan rekomendasi perbaikan dalam pengelolaan pembibitan, sebuah proses memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanggungjawab penuh terhadap program
Perkebunan karet merupakan salah
satu sumber ekonomi dominan yang telah dikembangkan oleh masyarakat secara
intensif, skala kebun karet berkisar 2 – 5 ha yang dikelola oleh masing masing
keluarga tani. Pelatihan sistem pengawasan internal (ICS) dilaksanakan pada
tanggal 17 – 18 April 2013 di Desa Ukit Ukit Kec. Batang Lupar kab. Kapuas
Hulu. Pelatihan ini melibatkan 30 petani karet dan bertujuan untuk membangun
sistem pengawasan kelompok dalam menerapkan standart mutu ditingkat kelompok.
Desa Labian merupakan salah satu desa yang berada di kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia di bagian utara Pulau Borneo, secara geografis hanya berjarak 50 km dari Lubok Antu, Lubok Antu merupakan salah satu sub distrik negara tetangga yang sering dikunjungi terutama pada setiap hari minggu dan pasar bagi petani petani di perbatasan untuk menjual hasil buminya ke Malaysia. Selain itu kawasan ini berada dalam Heart of Borneo dan memiliki nilai penting bagi perekonomian dan lingkungan.
Upaya pemberdayaan petani melalui
peningkatan kapasitas yang telah dilakukan telah mendorong pertambahan luasan
dan skala produksi karet di wilayah tersebut. Penanaman yang dilakukan lima
tahun terakhir telah dirasakan dan dinikmati terutama untuk jenis karet hybrid
dan saat ini produksi semakin meningkat, demikian menurut Yosef Unja salah satu
petani di Desa Labian.
Namun pada sisi lain petani masih
dihadapkan dengan menurunnya harga karet dan terjadinya fluktuasi harga yang
susah diprediksi. Persoalan lain adalah ternyata rantai perdagangan karet dan
proses perdagangan karet masih dikuasai oleh pelaku pasar yang tidak fair
(jujur) dan penentuan harga tidak melibatkan petani.
Mengapa perlu peningkatan mutu?
Kualitas karet ditentukan oleh
tekhnik produksi dan perlakuan pasca panen, kualitas yang baik memiliki harga
beli yang tinggi. Pengetahuan tentang Standart mutu ditingkat petani masih
rendah dan membingungkan, seperti contoh bahwa nyaris tidak ada indikator dan
perbedaan harga yang signifikant antara kondisi karet yang diproduksi.
Alasan utama yang dikemukakan
oleh pembeli (lokal dan pabrik) adalah
kualitas karet masih rendah dan produksinya masih terbatas serta ongkos
transportasi dari desa ke pabrik mahal sekali. Upaya upaya yang akan dilakukan
adalah meningkatkan mutu karet sesuai dengan permintaan pasar dan membangun
sistem pemasaran yang mampu melakukan negosiasi dengan pihak pembeli.
Internal controlling system (ICS)
merupakan sebuah pendekatan penjaminan mutu yang melibatkan semua petani didalam
sebuah kelompok, terdiri dari proses yang dibangun berdasarkan prinsip prinsip
transparansi dan kejujuran.
Prinsip dasar dari pengembangan ICS ini adalah untuk memfasilitasi kelompok
petani kecil menghasilkan produk berkualitas sesuai standar dan akhirnya bisa
mendapatkan penjaminan (sertifikasi) baik dari lembaga sertifikasi pihak ketiga
maupun komunitas.
syarat dari sertifikasi kelompok
petani kecil adalah unit usahatani umumnya dikelola oleh tenaga kerja keluarga,
pendapatan usahatani tidak cukup untuk membayar biaya sertifikasi, keseragaman
anggota kelompok petani baik lokasi geografis, sistem produksi, ukuran
kepemilikan lahan dan sistem pemasaran. Biasanya petani skala menengah juga
bisa menjadi anggota kelompok dengan persetujuan kelompok dan diinspeksi oleh
lembaga sertifikasi organik.
Dalam mengembangkan ICS, petani
harus terbiasa dalam kerja organisasi dan mencatat atau mendokumentasikan semua
kegiatan terkait usaha taninya, mulai dari proses produksi sampai pasca panen.
Selain berorganisasi dan mencatat, petani juga harus menyepakati dan memenuhi
standar mutu yang telah disusun bersama serta bersedia menerima sanksi bila
terjadi ketidaksesuaian dengan standar tersebut.
Pelatihan ICS ini merupakan
langkah pengorganisasian petani untuk meningkatkan akses pasar dan meningkatkan
posisi tawar petani dari situasi perdagangan karet baik pada tingkat lokal
maupun nasional. Proses untuk mengembangkan standart mutu dan kelembagaan ICS
dibangun bersama dengan kelompok tani yang selama ini memiliki produk dan
melibatkan juga pelaku pelaku pasar ditingkat desa.
Bermain musik dianggap hal biasa dalam keseharian kita, musik merupakan bagian dari kehidupan manusia, seni musik membuat kita bisa hanyut dalam irama dan kedalaman seninya. Kali ini saya akan bercerita tentang alat musik yang terbuat dari bambu dari masyarakat Krayan di Pedalaman Kalimantan Timur, saya tidak ingat jenis alatnya, namun yang diajarkan oleh Pak Elias (seniman musik Krayan) adalah alat musik petik dan tabuh.
Dalam kategori modern seperti kelompok perkusi kami bermain musik bersama, sol mi sa si istilah temanku dihasilkan dari bilah bilah bambu yang diolah menurut fungsinya, untuk jenis bambu besar lebih banyak menghasilkan suara bass dan jenis bambu kecil lebih dominan sebagai melodi dan rythem..Yang membuat alat musik ini bisa dinikmati adalah perpaduan tetabuhan dengan ketukan yang beragam...perbedaan ketukan dan kebebasan ekspresi ternyata menghasilkan keindahan.
Dalam kategori modern seperti kelompok perkusi kami bermain musik bersama, sol mi sa si istilah temanku dihasilkan dari bilah bilah bambu yang diolah menurut fungsinya, untuk jenis bambu besar lebih banyak menghasilkan suara bass dan jenis bambu kecil lebih dominan sebagai melodi dan rythem..Yang membuat alat musik ini bisa dinikmati adalah perpaduan tetabuhan dengan ketukan yang beragam...perbedaan ketukan dan kebebasan ekspresi ternyata menghasilkan keindahan.
![]() | |
| Gadis Dayak , by Rudi Zaparisa |
Setiap sub suku Dayak memiliki keunikan dalam busana tradisionalnya , busana tradisional ini merupakan ekspresi seni dan kekayaan intelektual yang bernilai tinggi. Busana perempuan terdiri dari elemen yang kaya dengan warna, bahan dan eksotisme, Elemen dasar yakni pada terdiri dari baju dan rok . Pada setiap elemen dihiasi dengan motif simbol yang bercerita tentang maknanya. Elemen ini dibuat dari kain tenun yang diproduksi secara tradisional oleh perempuan perempuan Dayak. Pengetahuan desain busana ini juga sebuah kekayaan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi, Warna dasar yang dominan adalah warna merah, hitam dan putih, dengan kombinasi warna warni yang membentuk mozaik sehingga memiliki pesona yang menarik.
Selain busana dasar , kelengkapannya adalah ornament atau hiasan kepala yang dibuat dari bahan kain dan dikombinasikan dengan bulu bulu burung enggang gading yang menjadi simbol kekuatan dan kelembutan.
![]() | |
| ornament kepala |
![]() |
| busana wanita |
![]() |
| busana wanita |
Balutan lembut dengan ornament kepala yang menutup halusnya kulit mulus gadis gadis Borneo ini membuat kita berada pada etalase show kecantikan...luar biasa , perjalanan semakin jauh menembus jantung borneo menyisakan misteri yang tak pernah terungkap, setiap langkah menyimaknya semakin menambah keingintahuan dari misteri kecantikan borneo.
Sejarah mode pakaian adat ini berkembang seiring pengetahuan dalam sejaah kebudayaan Borneo, aspek artistik selalu memiliki makna dan menjadi simbol dari keseharian mereka. Dibeberapa komunitas Dayak Borneo bisa ditemukan beberapa ornament alami seperti gelang dari tulang binatang yang telah diukir dan dihaluskan, batu manik yang mereka asah dari bebatuan disekitarnya hingga logam mulia yang menjadi kekayaan alamnya. Kebudayaan busana ini berkembang baik disetiap komunitas Dayak Borneo dan sangat beragam dengan keunikan dan artistik.
![]() |
| Ilustrasi, Sumber: http://sansrise.wordpress.com/ |
Demikian juga kebiasaan para peladang di desa Tanjung kecamatan Mentebah Kab. Kapuas hulu. Desa ini terletak di kawasan pegunungan Muller Sachwanner yang membentang dari wilayah borneo barat dan tengah.
Sebelum membakar mereka membersihkan tepi ladang dengan membuat sekat bakar disekeliling ladang, sekat bakar ini bertujuan untuk menghindari api menyeberang kesekeliling dan membuang serasah atau apa saja yang mudah terbakar. Lebar sekat bakar biasanya disesuaikan dengan kondisi vegetasi dan biomassnya, semakin tebal biomasnya maka sekat bakarnya semakin lebar dan harus lebih bersih. Pembuatan sekat bakar ini dilakukan sehari sebelum pembakaran .
Semua proses dilakukan secara bersama sama dan melibatkan kaum lelaki dan perempuan, demikian juga pemilik lahan sekelilingnya selalu ikut terlibat dan membantu kegiatan pembakaran ini. Keberadaanku seolah olah membuat suasana menjadi lain, aku jadi berpikir mengapa mereka memperlakukanku begitu istimewa heheheh, seduhan kopi selalu mendapatkan gelas pertama dan menikmati penganan sebelum pembakaran sambil mendengarkan mereka melakukan briefing untuk aksi yang bakal seru ini.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan jumlah orang dan pengalaman yang dimiliki, akhirnya disepakati pembakaran akan dilakukan dari arah selatan kemudian dilakukan pembakaran disemua sisi ladang...prediksinya dalam waktu setengah jam api akan menjalar ketengah ladang dan akan bertemu dengan sumber api dari berbagai penjuru.
Api mulai disulut dari setiap sisi , semakin lama semakin membesar, bergerak menghanguskan satu demi satu biiomass dan setiap jengkal ladang...dari jauh terdengar letupan letupan kecil dan besar secara bersambungan dari bambu bambu kering. Teriakan teriakan perintah dan arahan pimpinan regu terdengar juga. Kami sibuk berlarian sambil mencoba memadamkan api api kecil yang masih hidup disis ladang dengan sprayer dan kayu yang sudah dibelah menyerupai kipas dibagian ujungnya.
Badan terasa terpanggang dan mata perih karena asap , semuanya harus dilakukan dengan sigap dan cepat. pembagian untuk mengisi air ditangki tangki sprayer dilakukan secara marathon . setengah jam proses ini berlangsung dan akhirnya api semakin membesar kearah tengah . bak puncak dari sebuah selebrasi api unggun kami semua merasa lega .Namun bukan akhir dari sebuah kegiatan, kami harus memastikan sekat sekat bakar aman dan tak ada api yang menjalar lagi. Setelah selesai semua sema orang berkumpul dan meneguk air, seperti keluardari sebuah tungku kurasakan panas luar biasa dan berteduh dibawah pohon besar sangat nikmat.
setiap orang berkisah tentang apa yang terjadi, ada yang menegangkan ada juga cerita lucu dan cerita itu menjadi mozaik kisah peladang dan api,,,,kearifan peladang memperlakukan api dan kisah kisah inspiratif ini sangat menarik perhatianku hingga tak sadar kalau sore telah menjelang malam,,,,beriringan dengan mereka aku pulang kekampung dan menanti acara malam bersama para peladang, kami sepakat akan menonton film dokumentasi tentang tekhnik pertanian organik. Mereka sangat haus dengan informasi dan pengetahuan yang bisa mereka jadikan modal untuk membangun pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
| pembakaran ladang |
| berlari memadamkan api |
Pulau Simping berada dalam kawasan teluk Mak Jantu (Mak jantu Bay) dan hanya ditempuh selama 20 menit dari kota Singkawang, Pulau ini juga merupakan bagian dari Sinka island tourism. Setelah menyusuri jalur perbukitan merupakan jalur utama menuju pulau ini. Pulau simping diakui oleh PBB sebagai pulau terkecil didunia, sekilas pulau ini hanya merupakan gundukan tanah dengan bebatuan yang berada di antara perairan teluk, disana terdapat juga pekong (Kelenteng) sebagai tempat beribadah masyarakat Tionghoa. Sungguh luar biasa hari ini aku menginjakan kaki disebuah daratan kecil.
Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan berkelok kelok memotong perbukitan Mak Jantu, sepanjang jalan pepohonan khas pantai juga dominan hingga dipuncak bukit seperti kelapa, cemara , semak belukar dan beberapa jenis perdu. Satu dua masih terdengar kicauan burung dan angin pantai membuat nuansa segar sepanjang jalan. Tiba di pantai teluk Mak jantu pandangan kita seolah terarah ke pulau mungil dan membuat rasa penasaran untuk menginjakan kaki disana. Sekarang sudah dibangun jembatan yang menghubungkan pantai teluk Mak Jantu dengan Pulau Simping dan kita bisa kesana dengan melintasi jembatan permanen.
Pulau kecil dengan bebatuan dan beberapa pohon cemara ini dikeklilingi oleh ekosistem karang laut, sekilas memandangnya masih terlihat bekas bekas keindahan karangnya dengan ikan ikan kecil dan beberapa jenis kepiting pantai.Menurut cerita temanku dulu sebelum dikuasai pengelolaannya oleh perusahaan tourism, pulau ini menjadi destinasi bagi para petualang pantai dan pemancing ikan di perairan dangkal. Semilir angin pantai dan tawaran menikmati air kelapa muda semakin membuat betah disini.
Tak terasa hari menjelang sore dan kamipun harus kembali ke Singkawang, dilain waktu aku akan kembali untuk mengisahkan sisi lain pulau ini....
Keberangkatan
kami ke desa Tanjung di Pegunungan Muller di sore hari membuat perasaan deg
degan, betapa tidak ..yang terbayang perjalanan ini bakal berlanjut hingga malam, sepanjang
jalan alunan lagu di mobil strada cukuplah sekedar mengusir kegalauan apalagi karena sang
sopir pun ternyata baru pertama kali pergi kesana.
Perjalanan
satu jam melalui jalur lintas selatan menuju kota Sintang dari Putussibau
sudah sudah sampai di simpang Tanjung. Dari Simpang Tanjung kami masih harus menempuh dua jam perjalanan menuju ke desa . Perjalanan malam hari dengan Kondisi jalan yang masih berlubang dan melintasi perbukitan
membuat adrenalin meningkat, suara burung malam dan sesekali terdengar menyambut malam membuat bulu kuduk bergidik juga hehehehehe..whatever lah.
Kantung Semar yang dikenal di kalangan masyarakat
Kalimantan Barat dengan sebutan Kantung Kera adalah tumbuhan unik yang
merupakan bagian dari fenomena satu hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman
hayati. Taman Nasional Betung Kerihun yang merupakan bagian penting dari hutan
tropis dunia menjadi salah satu tempat hidup berbagai species tumbuhan
ini. Sebagian besar ditemukan di daerah perbukitan/pegunungan dengan ketinggian
diatas 1000 m dpl. Hal tersebut dikarenakan habitat tumbuhan ini adalah
tapak-tapak yang miskin unsur hara.
Dari bentuknya yang unik dan jenis kantungnya yang sangat
bervariasi dengan ukuran dan warna yang beragam pula, sering mengundang tanda
tanya bagi yang menyaksikannya. Jika diteliti lebih jauh tidak hanya fisiologisnya yang menarik namun cara
hidupnyapun tergolong unik. Cara tumbuhan ini mendapatkan unsur hada adalah
dengan memerangkap berbagai jenis serangga
dengan kantongnya untuk kemudian dicerna hingga mengeluarkan nitrogen
dan unsur hara lainnya.
Membentuk koloni baru dengan bentuk setengah lingkaran, inilah cikal sarang lebah Aphis dorsata yang biasa disebut lebah madu hutan. Lebah lebah ini akan datang ketika musim bunga telah mekar dan memilih lokasi sarang pada jenis jenis kayu tertentu yang memiliki dahan yang kokoh dan aman.
Masa pembentukan sarang diawali dengan membentuk sarang muda dan berkembangbiak dalam koloni.
Jenis sarang yang berada pada dahan pohon tersebut biasanya disebut lalau , lalau terletak dipohon pohon besar dan ukuran sarangnya jauh lebih besar dibandingkan type lainnya yakni Tikung dan Repak. Sarang berada di dahan-dahan pohon, biasanya dalam satu pohon bisa terdiri dari sekitar 50 koloni. Pohon Lalau kalau dirawat biasanya setiap tahun akan dihuni lagi oleh koloni lebah. Kepemilikan sarang berdasarkan kepemilikan pohon. Pohon Lalau juga dilindungi oleh hukum ada di Masyarakat yang mendiami kawasan Taman Nasional Danau Sentarum
Memang proses pembuatannya tanpa campur tangan manusia dan bersifat alami namun masyarakat yang menjaga dan merawat pohon dimana lebah lebah tersebut bersarang merupakan kontribusi yang dihargai oleh warga setempat, karena itu pohon pohon yang menjadi tempat bersarang selalu terjaga dan lestari.
Jumlah sarang akan menentukan jumlah produksi madu hutan yang akan diperoleh setiap masa panen, kapasitas produksi berkisar antara 5 - 20 kg per sarang dan masa panen biasanya dilakukan saat kondisi sarang sudh matang, pengetahuan menilai sarang yang sudah siap panen ini juga menjadi khasanah pengetahuan yang luarbiasa di masyarakat adat.
Masa pembentukan sarang diawali dengan membentuk sarang muda dan berkembangbiak dalam koloni.
Jenis sarang yang berada pada dahan pohon tersebut biasanya disebut lalau , lalau terletak dipohon pohon besar dan ukuran sarangnya jauh lebih besar dibandingkan type lainnya yakni Tikung dan Repak. Sarang berada di dahan-dahan pohon, biasanya dalam satu pohon bisa terdiri dari sekitar 50 koloni. Pohon Lalau kalau dirawat biasanya setiap tahun akan dihuni lagi oleh koloni lebah. Kepemilikan sarang berdasarkan kepemilikan pohon. Pohon Lalau juga dilindungi oleh hukum ada di Masyarakat yang mendiami kawasan Taman Nasional Danau Sentarum
Memang proses pembuatannya tanpa campur tangan manusia dan bersifat alami namun masyarakat yang menjaga dan merawat pohon dimana lebah lebah tersebut bersarang merupakan kontribusi yang dihargai oleh warga setempat, karena itu pohon pohon yang menjadi tempat bersarang selalu terjaga dan lestari.
Jumlah sarang akan menentukan jumlah produksi madu hutan yang akan diperoleh setiap masa panen, kapasitas produksi berkisar antara 5 - 20 kg per sarang dan masa panen biasanya dilakukan saat kondisi sarang sudh matang, pengetahuan menilai sarang yang sudah siap panen ini juga menjadi khasanah pengetahuan yang luarbiasa di masyarakat adat.
Dialog dan saling tukar pengalaman bersama tokoh nasional Bapak Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Keraton Jogja pada tahun 2007 mengawali gerakan pembelaan hak hak petani kecil dari kapitalisme Global. Kepedulian dan komitmen beliau terhadap nasib petani di Indonesia mendaulatkan beliau sebagai duta pangan oleh kelompok sipil Indonesia. Bersama sahabat sahabat aktivis organisasi masyarakat sipil (NGOs) dari berbagai jaringan di Indonesia kami disambut dengan ramah dan diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan keprihatinan terhadap kehancuran dan kemiskinan yang dialami petani.
Persoalan persoalan petani bukan hanya menjadi persoalan bangsa tetapi menjadi bagian dari sisi kemanusiaan manusia diseluruh jagad ini, bayangkan saja kalau saat ini mereka sudah tidak lagi memproduksi pangan karena hak hak atas pangan dikuasai oleh segelintir orang apa yang akan terjadi dengan kita?pangan adalah barang mutlak dan selalu diperlukan setiap saat, untuk itu kita harus membangun gerakan yang terarah dan memiliki jaringan perjuangan yang solid, demikian pesan yang disampaikan beliau dalam perteman tersebut.
(Rasdi Wangsa, Agung prawoto, Indro surono, Lorens, Syafrudin Simeuleu, Saur Tiur situmorang, Kominta purba, Kawan Cevil jogja)
Hamparan hutan rawa basah mendominasi kawasan Danau Sentarum, betapa tidak seperti lekukan lembut diantara hijauan rimbun dan menggambarkan relief bumi begitulah kalimat yang pas menggambarkan sungai penghubung diantara danau danau besar.
Keunikan kawasan ini dibuktikan dengan hewan mamalia di TNDS ada 141 spesies. Sekitar 29 spesies di antaranya spesies endemik, dan 64 persen hewan mamalia itu endemik Borneo. Terdapat 266 spesies ikan, sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia.
Selain hutan yang bagus dan menjadi habitat lebah, TNDS juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Dari segi ukuran, misalnya, ada jenis ikan terkecil, yang dikenal dengan nama ikan Linut (sundasalanx cf. microps) berukuran 1-2 sentimeter dengan tubuhnya yang transparan seperti kaca, hingga ikan berukuran panjang dua meter seperti ikan Tapah dari genus Wallago.
Adapun ikan yang bernilai ekonomis dan di konsumsi warga, misalnya, ada ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Khusus ikan hias, di TNDS terdapat ikan silok atau Arwana (scleropages formosus) dan dan Ulang-uli (botia macracranthus) yang berhasil menembus pasaran internasional dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan, serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain.
Keunikan kawasan ini dibuktikan dengan hewan mamalia di TNDS ada 141 spesies. Sekitar 29 spesies di antaranya spesies endemik, dan 64 persen hewan mamalia itu endemik Borneo. Terdapat 266 spesies ikan, sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia.
Selain hutan yang bagus dan menjadi habitat lebah, TNDS juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Dari segi ukuran, misalnya, ada jenis ikan terkecil, yang dikenal dengan nama ikan Linut (sundasalanx cf. microps) berukuran 1-2 sentimeter dengan tubuhnya yang transparan seperti kaca, hingga ikan berukuran panjang dua meter seperti ikan Tapah dari genus Wallago.
Adapun ikan yang bernilai ekonomis dan di konsumsi warga, misalnya, ada ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Khusus ikan hias, di TNDS terdapat ikan silok atau Arwana (scleropages formosus) dan dan Ulang-uli (botia macracranthus) yang berhasil menembus pasaran internasional dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan, serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain.
Bukan hal yang aneh jika pindah rumah dengan memindahkan semua peralatan dan rumahnya di kalangan masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum. Lanting (rumah terapung) merupakan salah satu bentuk rumah masyarakat nelayan yang hidup ditengah danau dan dipinggir sungai sungai besar di Kalimantan Barat.
Jadwal pindah lanting ini menyesuaikan dengan musim panen ikan dan kegiatan nelayan, lanting lanting dipindahkan ke danau danau yang akan selalu tergenang pada musim kemarau. Rumah lanting terbuat dari kayu, kondisi pondasi selalu terapung, jenis kayu yang dipakai sebagai pelampung adalah kayu kayu yang tidak tenggelam seperti jenis kawi, tengakawang (shorea sp) dan lain lain. Kegunaan lanting selain untuk rumah tinggal juga dipergunakan untuk mengolah ikan hasil tangkapan mereka dan menyimpannya, bahkan bagi para pengunjung atau orang luar bisa menginap disini dan menikmati kehidupan diatas air. Saat gelombang datang kita seakan berada di ayunan dan menikmati kehidupan yang berbeda.
Sebuah kehidupan yang asri dan mengikuti irama alam, lanting lanting ini akan berkelana dan selalu berpindah menurut tradisi nelayan..namun kehancuran habitat dan kondisi hidrologi akibat pembukaan hutan dan kawasan penyangga oleh perkebunan kelapa sawit di sekitar Danau Sentarum dipastikan kondisi ini akan hilang tergerus dan hanya menyisakan cerita belaka
Putussibau, 19 februari 2012
Danau Buak di Desa Bika Nazareth Kecamatan Bika kabupaten Kapuas hulu potensi ekowisata yang masih tertidur. Danau ini hampir sama seperti danau danau lainnya dikawasan hutan rawa basah di Kalimantan, menyimpan pesona alami dengan potensi ikan, pemandangan danau, dan berbagai jenis flora faunanya. Dari kejauhan kanopi pohon pohon seperti membentuk garis yang lurus dan menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa burung seperti burung elang, burung pecuk udang(king fisher) dll. Sekali sekali masih kelihatan kelompok enggang dan kelelawar besar melintas menjelang sore hari.
Perjalanan menuju Danau Bika hanya ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Putussibau kabupaten Kapuas hulu melalui jalur darat dan bisa juga menggunakan speed boat dan sejenisnya melalui sungai Kapuas. Danau ini ditetapkan sebagai kawasan lindung oleh masyarakat adat Dayak Kantuk dan hanya bisa dimanfaatkan secara terbatas misalnya menangkap ikan dengan jaring, pancing dan jenis pukat.
Jika inin menginap tersedia homestay dan penginapan sederhana mirip rumah betang Dayak yang bisa menampung ratusan orang..wow walaupun sederhana dan alami masyarakat setempat memberikan garansi keamanan dan kenyamanan. soal makanan sangat mudah didapatkan, bila ingin menyediakan sendiri makanan sudah tersedia peralatan dapur dan bisa mendapatkan makanan dari masyarakat seperti beras kampung, berbagai jenis sayuran, ayam dan ikan tentunya bisa menangkap sendiri dengan memancing didanau. Biaya untuk penginapan sangat murah ...untuk sebuah homestay bisa menampung 15 orang hanya membayar Rp.150.000,
Hari telah sore dan kakiku masih berat untuk kembali ke Putussibau , pesona danau di sore ini memberikan kesegaran pikiran dan niat untuk kembali lagi.....
Danau Buak di Desa Bika Nazareth Kecamatan Bika kabupaten Kapuas hulu potensi ekowisata yang masih tertidur. Danau ini hampir sama seperti danau danau lainnya dikawasan hutan rawa basah di Kalimantan, menyimpan pesona alami dengan potensi ikan, pemandangan danau, dan berbagai jenis flora faunanya. Dari kejauhan kanopi pohon pohon seperti membentuk garis yang lurus dan menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa burung seperti burung elang, burung pecuk udang(king fisher) dll. Sekali sekali masih kelihatan kelompok enggang dan kelelawar besar melintas menjelang sore hari.
Perjalanan menuju Danau Bika hanya ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Putussibau kabupaten Kapuas hulu melalui jalur darat dan bisa juga menggunakan speed boat dan sejenisnya melalui sungai Kapuas. Danau ini ditetapkan sebagai kawasan lindung oleh masyarakat adat Dayak Kantuk dan hanya bisa dimanfaatkan secara terbatas misalnya menangkap ikan dengan jaring, pancing dan jenis pukat.
Jika inin menginap tersedia homestay dan penginapan sederhana mirip rumah betang Dayak yang bisa menampung ratusan orang..wow walaupun sederhana dan alami masyarakat setempat memberikan garansi keamanan dan kenyamanan. soal makanan sangat mudah didapatkan, bila ingin menyediakan sendiri makanan sudah tersedia peralatan dapur dan bisa mendapatkan makanan dari masyarakat seperti beras kampung, berbagai jenis sayuran, ayam dan ikan tentunya bisa menangkap sendiri dengan memancing didanau. Biaya untuk penginapan sangat murah ...untuk sebuah homestay bisa menampung 15 orang hanya membayar Rp.150.000,
Hari telah sore dan kakiku masih berat untuk kembali ke Putussibau , pesona danau di sore ini memberikan kesegaran pikiran dan niat untuk kembali lagi.....
SIARAN PERS: Kamis, 20 Oktober 2011
Pontianak - Pertanian organik berkembang pesat di Indonesia. Namun perkembangan ini tidaklah mudah. Banyak hal yang menghambatnya. Mulai dari masalah internal petani atau kelompok tani hingga eksternal baik kebijakan pemerintah maupun intervensi pihak swasta.
Tanpa dukungan dari para pihak, niat baik dari petani mengembangkan pertanian organik seringkali terhambat oleh tidak adanya ketrampilan praktik pertanian organik yang tepat sesuai standar, tidak mudahnya akses pasar, penentuan harga yang tepat, rendahnya kualitas produk dan sebagainya.
Sementara itu pemerintah nampak masih mengalami dilemma untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung petani organik. Justru beberapa kebijakan pemerintah bisa mengancam semangat petani organik.
Hasil konsolidasi petani organik yang tergabung dalam Aliansi Organis Indonesia (AOI) selama empat hari (17-20 Oktober 2011), di Pontianak, Kalimantan Barat menunjukkan adanya ancaman dari kebijakan sertifikasi bagi produk organik, kebijakan sektor lain yang mengganggu keberlanjutan pertanian organik. Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung itu semakin memperburuk dari kesulitan internal dari petani atau kelompok tani.
Kebijakan sertifikasi organik mempersulit petani kecil karena harganya yang mahal dan prosedurnya yang rumit, tak bisa terjangkau oleh petani. Sementara itu beberapa kebijakan sektor lain seperti perluasan perkebunan kelapa sawit dan alih fungsi lahan lainnya pun mengancam pertanian organik. Baru-baru ini petani madu hutan organik yang tergabung dalam Asosiasi Periau Danau Sentarum-APDS mengaku khawatir dengan kebijakan pemerintah yang memperluas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
“Kualitas madu hutan yang telah bersertifikat organik ini bisa terancam oleh kontaminasi pestisida dari perkebunan kelapa sawit di sekitarnya. Maka upaya petani dalam produksi madu hutan berkualitas hingga mendapat sertifikat organik bisa hilang begitu saja,” kata Irawan sebagai salah satu pendamping dari petani madu APDS saat Rapat Umun Anggota (RUA) di Pontianak, Kalimantan Barat 20 Oktober 2011.
Saat ini para petani madu hutan APDS telah berupaya agar pemerintah kabupaten setempat , khususnya Bupati Kubu Raya, Bapak Muda Mahendrawan dak memberikan ijin perluasan kelapa sawit ini. Salah satunya dengan menarik perhatian Bupati melalui upaya ekspor madu APDS pertama ke Serawak, Malaysia.
Selain terancam hilang atau dicabutnya sertifikat organik yang sudah diperoleh petani, kebijakan pemerintah tentang sertifikasi organic juga menghambat petani memasarkan produk organiknya. Hal ini seperti yang dialami oleh petani organik lain yang tergabung di AOI.
Untuk mengatasi berbagai ancaman itu, petani organik bergabung dalam Aliansi Organis Indonesia (AOI). Melalui organisasi petani AOI ini, para petani bisa berbagi informasi dan saling mendukung dalam peningkatan kemampuan maupun mengatasi berbagai ancaman itu. AOI juga menawarkan penjaminan berbasis komunitas (Participatory Guarantee System-PGS) atau PAMOR INDONESIA untuk membantu petani organic mendapat sertifikat yang mudah dan murah. Namun petani organik dengan sertifikat PAMOR ini juga merasa terancam karena pemerintah belum mengakui sertifikasi PGS atau PAMOR.
Menanggapi berbagai isu dan ancaman terhadap pengembangan pertanian organik ini, AOI mendesak pemerintah:
1. Mendukung pengembangan pertanian organik dan konsumsi produk organik di Indonesia.
2. Mengakui penjaminan organik partisipatif (PGS) yang di Indonesia disebut PAMOR INDONESIA.
3. Membantu petani organik kecil mendapatkan sertifikasi organik.
4. Tidak mengeluarkan kebijakan yang mengancam keberlanjutan pertanian organik dan kualitas organik dari produk hutan (seperti ijin perkebunan kelapa sawit, tambang dan sebagainya) .
Pontianak - Pertanian organik berkembang pesat di Indonesia. Namun perkembangan ini tidaklah mudah. Banyak hal yang menghambatnya. Mulai dari masalah internal petani atau kelompok tani hingga eksternal baik kebijakan pemerintah maupun intervensi pihak swasta.
Tanpa dukungan dari para pihak, niat baik dari petani mengembangkan pertanian organik seringkali terhambat oleh tidak adanya ketrampilan praktik pertanian organik yang tepat sesuai standar, tidak mudahnya akses pasar, penentuan harga yang tepat, rendahnya kualitas produk dan sebagainya.
Sementara itu pemerintah nampak masih mengalami dilemma untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung petani organik. Justru beberapa kebijakan pemerintah bisa mengancam semangat petani organik.
Hasil konsolidasi petani organik yang tergabung dalam Aliansi Organis Indonesia (AOI) selama empat hari (17-20 Oktober 2011), di Pontianak, Kalimantan Barat menunjukkan adanya ancaman dari kebijakan sertifikasi bagi produk organik, kebijakan sektor lain yang mengganggu keberlanjutan pertanian organik. Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung itu semakin memperburuk dari kesulitan internal dari petani atau kelompok tani.
Kebijakan sertifikasi organik mempersulit petani kecil karena harganya yang mahal dan prosedurnya yang rumit, tak bisa terjangkau oleh petani. Sementara itu beberapa kebijakan sektor lain seperti perluasan perkebunan kelapa sawit dan alih fungsi lahan lainnya pun mengancam pertanian organik. Baru-baru ini petani madu hutan organik yang tergabung dalam Asosiasi Periau Danau Sentarum-APDS mengaku khawatir dengan kebijakan pemerintah yang memperluas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
“Kualitas madu hutan yang telah bersertifikat organik ini bisa terancam oleh kontaminasi pestisida dari perkebunan kelapa sawit di sekitarnya. Maka upaya petani dalam produksi madu hutan berkualitas hingga mendapat sertifikat organik bisa hilang begitu saja,” kata Irawan sebagai salah satu pendamping dari petani madu APDS saat Rapat Umun Anggota (RUA) di Pontianak, Kalimantan Barat 20 Oktober 2011.
Saat ini para petani madu hutan APDS telah berupaya agar pemerintah kabupaten setempat , khususnya Bupati Kubu Raya, Bapak Muda Mahendrawan dak memberikan ijin perluasan kelapa sawit ini. Salah satunya dengan menarik perhatian Bupati melalui upaya ekspor madu APDS pertama ke Serawak, Malaysia.
Selain terancam hilang atau dicabutnya sertifikat organik yang sudah diperoleh petani, kebijakan pemerintah tentang sertifikasi organic juga menghambat petani memasarkan produk organiknya. Hal ini seperti yang dialami oleh petani organik lain yang tergabung di AOI.
Untuk mengatasi berbagai ancaman itu, petani organik bergabung dalam Aliansi Organis Indonesia (AOI). Melalui organisasi petani AOI ini, para petani bisa berbagi informasi dan saling mendukung dalam peningkatan kemampuan maupun mengatasi berbagai ancaman itu. AOI juga menawarkan penjaminan berbasis komunitas (Participatory Guarantee System-PGS) atau PAMOR INDONESIA untuk membantu petani organic mendapat sertifikat yang mudah dan murah. Namun petani organik dengan sertifikat PAMOR ini juga merasa terancam karena pemerintah belum mengakui sertifikasi PGS atau PAMOR.
Menanggapi berbagai isu dan ancaman terhadap pengembangan pertanian organik ini, AOI mendesak pemerintah:
1. Mendukung pengembangan pertanian organik dan konsumsi produk organik di Indonesia.
2. Mengakui penjaminan organik partisipatif (PGS) yang di Indonesia disebut PAMOR INDONESIA.
3. Membantu petani organik kecil mendapatkan sertifikasi organik.
4. Tidak mengeluarkan kebijakan yang mengancam keberlanjutan pertanian organik dan kualitas organik dari produk hutan (seperti ijin perkebunan kelapa sawit, tambang dan sebagainya) .


















