Study Potensi Hasil Hutan Non Kayu

Voice of borneo | 20.41 | 0 komentar

 Latar Belakang

Di desa-desa sekitar (penyangga) Taman Nasional Gunung Palung, sekitar 45.000 orang mencari yang beraktivitas mencari nafkah dengan padi dan menjual hasil hutan non-kayu (HHBK) seperti karet dan durian. Diwaktu mendatang gaya hidup tersebut akan berubah karena urbanisasi dan perluasan perkebunan kelapa sawit atau usaha lain yang bersifat eksploratif dan eksploitatif. Sementara menerapkan pengelolaan kolaboratif dan kegiatan -terkait REDD +, mengamankan pengetahuan dan hak-hak masyarakat orang perlu dipertimbangkan sebagai aspek penting pada perlindungan untuk mengurangi risiko konflik di masa depan.
Dalam usaha untuk melindungi kawasan konservasi yang dimana sudah ada masyarakat yang mendiami dan mengelola hasil hutan yang ada didalamnya, diperlukan suatu langkah strategis dan terpola dengan mengedepankan kerjasama antara pihak pengelola kawasan konservasi, masyarakat serta stakeholder. Dengan mengutamakan atas kesetaraan hak dan tanggungjawab dalam pengelolaannya. Karena diharapkan masyarakat disekitar kawasan konservasi dapat menerima manfaat langsung dan tak langsung dari usaha konservasi yang dilakukan.
Dari hasil survei sosial ekonomi yang telah dilakukan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung, sebagian besar masyarakat melakukan pemanenan/mengumpulkan hasil hutan bukan kayu dari dalam kawasan konservasi tersebut. Dan ini telah berlangsung lama secara tradisional dan masih belum dapat dilihat kesinambungannya untuk waktu yang panjang.
Untuk itu survei yang lebih rinci sangat diperlukan untuk memahami situasi terkini terkait dengan pemanfaatan dan penggunaan hasil hutan bukan kayu dan mengidentifikasi langkah-langkah yang tepat untuk perlindungan dan pengelolaan Taman Nasional Gunung Palung secara berkelanjutan.

 
Panen Madu lebah hutan Apis dorsata
A.    Capaian

            Capaian yang diharapkan dari survey ini adalah:
1.    Untuk mengetahui penggunaan HHBK dan pengetahuan masyarakat dalam mengelolanya disekitar TNGP;
2.    Untuk menganalisis bagaimana menggunakan dan pengetahuan tentang HHBK mempengaruhi keberlanjutan konservasi hutan dan keanekaragaman hayati secara positif dan negative;
3.    Untuk member usulan mengenai langkah-langkah yang tepat untuk pengelolaan TNGP dan dukungan mata pencaharian dengan meningkatkan nilai HHBK serta mengamankan hak-hak masyarakat lokal dalam penggunaan HHBK;
4.    Untuk mengembangkan aspek hukum antara para pemangku kepentingan di pasar HHBK serta untuk mengamankan manfaat bagi masyarakat setempat dan pengelolaan TNGP.

B.     Kegiatan

Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam survey ini mencakup:
1.      Pengumpulan informasi dasar, tentang HHBK penggunaan dan pengelolaan taman nasional kemudian akan dikompilasi ke lembar informasi.

2.      Interview kepada stakeholder, Orang/badan yang terlibat dalam pengelolaan TNGP dan HHBKseperti pejabat dari pemerintah daerah,, LSM dan kantor TNGP. Wawancara dengan para stakeholder akan dilakukan dan didokumentasikan dalam laporan. Wawanca ini juga akan mempertimbangkan kesenjangan dalam pemahaman peraturan terkait dan kebijakan antara para pemangku kepentingan.
 
Diskusi dengan Masyarakat Manjau
3.      Survey lapangan, akan dilakukan kepada kelompok masyarakat yang mengelola HHBK. Dalam wawancara dengan informan kunci, item berikut akan dimasukkan sebagai informasi dasar:
a.       jenis  HHBK, lokasi pengumpulan HHBK (baik di dalam maupun di luar TNGP),
b.      jumlah dan frekuensi pengumpulan dan
c.       penggunaan beserta cara penggunaan HHBK
d.      aturan lokal atau pengetahuan tentang pengumpulan/panen,
e.       kepemilikan atau menggunakan hak (lokasi dan produk)
f.       perubahan sumber daya dan masyarakat,
g.      harga produk di pasar lokal dan informasi terkait lainnya pada HHBK.
 
survey lapangan
4.      Analisis
Dalam pelaksanaan survey ini, analisis yang akan dilakukan akan mencakup
a.       Situasi koleksi HHBK dan penggunaannya dalam perbedaan antara karakteristik seperti etnis, migrasi dan fitur geografis
b.      Luas pemanfaatan HHBK oleh masyarakat dalam NP dengan peta
c.       Pengetahuan lokal atau kebijaksanaan pada HHBK penggunaan dan pengelolaannya
d.      penggunaan sumber daya Perubahan dan HHBK dan faktor potensial dari perubahan
e.       Potensi pemanfaatan HHBK untuk mendukung kehidupannya termasuk sumber daya pemasaran dan rencana pengembangan kapasitas masyarakat setempat.
f.       Implikasi bagi pengelolaan taman dan pemantauan keanekaragaman hayati dengan kantor TNGP yang mencakup isu-isu dan tantangan dalam sistem zonasi TNGP.

Category:

Voice of Borneo:
Saya sangat menghargai komentar yang membangun dan bertanggungjawab

0 komentar